Tentang Jeng Ana

Momentum Penting Perjalanan Karir Sang Ratu Herbal

Jeng Ana juga tidak melupakan warga masyarakat sekitar. Sebagian bentuk kepedulian terhadap warga di lingkungannya, acara ini malah nampak seolah-olah menjadi pesta rakyat. Bayangkan, mereka dihibur dan berjoget bersama para artis-artis ternama ibukota secara gratis. Setelah itu dijamu dengan berbagai macam makanan yang mungkin tidak bisa mereka jumpai setiap saat.

Selain itu bagi para anak yatim dan janda juga mendapat perlakuan khusus. Mereka yang berjumlah ratusan itu mendapat santunan khusus, bukan hanya pada saat itu saja, tetapi Jeng Ana memang punya agenda rutin setiap bulan untuk menyantuni kaum yang membutuhkan perhatian itu.

Di tengah kesuksesannya sebagai seorang herbalis ternama, Jeng Ana memang tidak mau lupa diri. Perempuan kalem ini sadar betul bahwa semua karunia yang dimilikinya saat ini hanyalah titipan dari ilahi, yang sudah semestinya juga dipergunakan untuk berbagi.

Itulah alasannya kenapa Klinik Herbal Jeng Ana menerapkan tarif yang terjangkau bagi semua kelas masyarakat. Bahkan bagi mereka yang benar-benar tidak mampu, Jeng Ana juga tidak jarang malah membantunya. (*)

 

 

Bermula dari Warisan Sang Kakek

Sejak kecil Jeng Ana memang sudah dibiasakan orang tua dan kakek-neneknya untuk selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Apalagi kakek pemilik nama asli Ina Soviana ini adalah seorang mantri desa alias penyembuh alternatif yang sehari-harinya membantu warga yang menderita sakit.

Saat itu, hampir setiap hari Jeng Ana kecil ini turut sibuk membantu sang kakek, mbah Kadam Sastro Ningrat, membuat ramuan-ramuan obat tradisional untuk keperluan pasien penderita berbagai jenis penyakit. Dari sinilah perempuan kelahiran 15 Juli 1977 ini banyak belajar mengenal ramuan herbal secara otodidak.

Ketika sang kakek meninggal, Ina Soviana pun bertekad untuk melanjutkan keahlian orang yang dicintainya itu. Kebetulan sang kakek mewarisinya tanah seluas 1,5 hektare yang sudah ditanami rtusan macam tanaman obat.

Waktu itu usia Jeng Ana sudah sekitar 20 tahun. Karena sang kakek sudah tidak ada, maka perempuan muda ini mulai memberanikan diri untuk terjun menggantikan sang kakek melakukan pengobatan ketika ada warga yang sakit datang berobat.

“Setiap bulan selalu ada yang minta datang meminta bantuan, dan Alhamdulillah sembuh.” tutur Jeng Ana.

Kondisi ini semakin meyakinkan Jeng Ana untuk melanjutkan dan melestarikan warisan leluhur. Niatnya semakin kuat ketika melihat kondisi kehidupan masyarakat yang semakin sulit lantaran krisis moneter yang terjadi kala itu.  Banyak masyarakat yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan penyakit yang dideritanya karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit yang mahal.

“Atas desakan beberapa teman dan keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk buka klinik,” jelasnya.

Untuk memperdalam pengetahuannya, Jeng Ana lantas hijrah ke Jakarta. Di ibukota, Jeng Ana banyak belajar, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Pelahan, namun pasti, keputusannya untuk membangun klinik herbal itu akhirnya bisa terwujud.

Tentu saja klinik pertama yang dibuka belum seperti sekarang ini. Kondisinya waktu itu masih apa adanya. Namanya juga merintis, sudah tentu memerlukan proses untuk meraih sukses. Apalagi kesadaran masyarakat akan pentingnya pengobatan herbal saat itu masih cukup rendah. Sebagian besar masyarakat masih cenderung menganggap obat-obatan kimia sebagai obat yang paling mujarab. Padahal obat-obatan kimia justru memiliki efek samping yang bisa membahayakan kesehatan, karena bisa merusak ginjal dan lever.

“Namun saya selalu berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa herbal merupakan pengobatan yang sangat menjanjikan,” tegasnya tersenyum dengan lesung pipit di kedua pipinya.

Perjuangan keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Belakangan masyarakat mulai melek tentang besarnya manfaat pengobatan herbal. “Pengobatan herbal merupakan pengobatan kasih sayang antara alam dan manusia,” ujarnya.

Tren masyarakat untuk beralih ke herbal semakin tinggi setelah menyaksikan fakta bahwa para pasien dengan berbagai jenis penyakit berat dan ringan ternyata bisa sembuh melulai pengobatan herbal. Bahkan penyakit-penyakit yang tidak bisa disembuhkan melalui pengobatan di rumah sakit pun bisa teratasi dengan menggunakan herbal.

Walhasil, klinik Jeng Ana berkembang pesat. Berkat keuletan dan kegigihannya melestarikan dan mengembangkan ramuan herbal, Jeng Ana pun lantas mendapat julukan sebagai Ratu Herbal Indonesia.

Toh sukses ini tak membuat Jeng Ana lupa diri. Dia konsisten memegang komitmen dan tujuan awalnya, bahwa pengembangan pengobatan herbal harus bisa membantu dan memberi manfaat bagi masyarakat kecil.

Jeng Ana tidak tergoda untuk memanfaatkan kesempatan guna menumpuk keuntungan sebesar-besarnta, meskipun kesempatan terbuka cukup lebar. Karena itu jangan heran bila semua orang yang berbat ke klinik Jeng Ana selalu mendapat perlakuan sama. Biarpun dia selebritis ataupun pejabat penting, mereka harus ikut antre bersama-sama pelanggan lainnya.

“Kalau memang harus antre yang silakan antre. Tidak ada yang diistimewakan, siapapun itu” tegas Jeng Ana. (*)

 

 

Belajar Ilmu Pengobatan Herbal dari Dua Alam

Sulit dibayangkan kalau dulu Jeng Ana pernah divonis mati, bahkan hampir saja dikuburkan. Untunglah hal ini urung dilakukan, sebab akhirnya diketahui Ana kecil hanya mati suri. Nah, dalam keadaan mati suri inilah ia merasa berada di sebuah istana yang sangat indah. Di istana alam gaib yang diperkirakan berada di puncak Gunung Lawu inilah Ana diajari ilmu-ilmu meracik ramuan tumbuhan, beserta khasiat dan manfaatnya.

Nama aslinya Ina Soviana. Ia memang lahir dan dibesarkan di tengah keluarga pengobat. Kakeknya mbah Kadam Sastro Ningrat, di percaya masyarakat purwodadi sebagai orang yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Ayahnya yang pegawai negeri sipil juga dikenal sebagai seorang pengobat. Bedanya, sang kakek biasa mengobati pasien dengan ramuan tumbuh-tumbuhan atau sebagai pengobat herbal, sedangkan ayahnya biasa mengobati pasien hanya dengan media air putih saja.

Rupanya Ana kecil memang merupakan cucu kesayangan kakeknya, sehingga ia sering ikut membantu sang kakek dalam proses pengobatan pasien. Ana rajin sekali mendampingi sang kakek ke pekarangan rumah untuk membantu memetik tanaman obat seperti jahe, sirih, temulawak, dan kunyit putih. Tak tanggung-tanggung, Ana juga ikut membantu kakeknya meracik bahan-bahan tersebut untuk obat. Dari semua cucu-cucu Mbah Kadam, memang Ana-lah yang paling sering ikut membantu.

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, terjadilah sebuah peristiwa yang seumur hidup tidak bisa dilupakan olehnya. Ketika itu Ana jatuh sakit dengan gejala demam tinggi. Anehnya, walau telah berobat ke dokter dan di beri ramuan tradisional, namun suhu tubuhnya tak kunjung menurun, malahan kian meninggi. Puncaknya Ana koma, bahkan kemudian dinyatakan mati.

Seluruh keluarga menangisi kepergian Ana. Untunglah ketika akan dimandikan dan disholatkan, kakeknya  muncul setelah sekian lama bertapa. Mbah Kadam nampaknya tahu apa yang terjadi terhadap diri cucu kesayangannya ini. Keanehan akhirnya memang berlangsung. Setelah diobati dan didoakan oleh kakeknya, Ana kecil kembali sadar. Ia pun menceritakan pengalamannya belajar ilmu pengobatan di istana gaib Gunung Lawu.

Tahun 2002, kakeknya meninggal tepat di hari ulang tahun Ana yang ke-20. Sebelum wafat, sang kakek berpesan kepada cucu kesayangannya ini agar meneruskan apa yang selama ini dilakukannya, yakni sebagai pengobat. Tetapi sang kakek juga berpesan, bahwa Ana tidak boleh membuka praktik sebelum umurnya 25 tahun.

Wanita kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, 15 Juli 1977, ini akhirnya memilih hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Pilihan yang ditempuhnya adalah sekolah tentang herbal. Disitulah Ana belajar mengetahui lebih dalam kegunaan daun, akar, umbi-umbian, dan biji-bijian untuk mengobati penyakit. Bakatnya pun semakin terasah. Namun demikian Ana masih harus menunggu waktu untuk membuka praktik.

Barulah ketika menginjak usia 25 tahun, Ana mulai membuka praktik pengobatan herbal di Jakarta. Mulanya hanya keci-kecilan saja, seperti melayani kerabat, teman,atau tetangga dekat. Ia sama sekali tak menyangka kalau kemudian kliniknya menjadi besar dan terkenal seperti sekarang ini. Setiap hari, tempat praktiknya selalu dipenuhi pasien yang mengeluhkan berbagai penyakit. Rata-rata pasiennya sudah berobat secara medis dan sudah memiliki vonis penyakitnya secara medis. Bahkan tidak sedikit artis-artis yang datang kepadanya untuk pengobatan herbal.

Oleh karena banyaknya yang berobat dan datang dari berbagai daerah, Ana pun mengembangkan usahanya dengan membuka cabang di daerah. Saat ini sudah ada empat cabang, yakni Bandung, Denpasar, Pekanbaru, dan Tangerang. Kemungkinan besar juga akan dibuka cabang-cabang baru di daerah lain.

Dengan banyaknya cabang, Jeng Ana tentu tidk mungkin bisa selalu berada di semua cabang itu. Dia mengatur jadwal keberadaannya di cabang pada hari-hari tertentu yang sudah dijadwalkan. Selebihnya Jeng Ana mempercayakan penanganan pasien kepada asisten di masing-masing cabang. Kepada para asistennya ini, Jeng Ana telah membekali berbagai ilmu dan keterampilan pengobatan, sehingga kemampuannya sama sekli tidak diragukan.

Toh para pasien biasanya lebih suka kalau bertemu langsung dengan Jeng Ana. Karena itu minimal dua pekan sekali Jeng Ana menyempatkan diri untuk berpraktik di masing-masing cabang secara bergantian. Kebetulan Jeng Ana juga harus mengisi acara talk show tentang pengobatan herbal di stasiun televisi masing-masing daerah itu.

Jadi, jangan heran kalau jumlah pasien di klinik cabang selalu membludak setiap Jeng Ana dijdwalkan praktik di cabang itu. Toh demikian biasanya tidak semua pasien bisa ditangani langsung oleh Jeng Ana, karena terlalu banyaknya jumlah mereka.

Satu kelebihan Jeng ana, ia selalu mensyaratkan kepada mereka yang berobat untuk tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Disamping dengan racikan herbal, ia biasanya menggunakan pendekatan dengan beberapa bacaan berdasarkan Al Qur’an. Lebih dari itu, ia juga selalu meminta para pasiennya untuk cek kesembuhan penyakit lewat laboratorium dengan maksud untuk mendapatakan kepastian penyembuhan.

Kini, wanita yang semasa kecil dianggap telah mati itu telah menjadi ikon dalam dunia pengobatan herbal. Bisa dikatakan ia adalah nomor satu di Indonesia saat ini. Tak heran bila kalangan media kemudian menyematkan julukan padanya sebagai Ratu Herbal Indonesia.(*)

 

Kian Mantap Melangkah Sepulang dari Mekkah

Di tengah kesibukannya yang semakin padat, Jeng Ana tak pernah melupakan keluarga. Perempuan anggun ini selalu menyisakan waktu buat putra-putri dan suami tercintanya.

Dari buah pernikahannya dengan Suprayitno, Mereka dikaruniai dua orang putra-putri. Anak pertama lahir pada 8 Oktober 2003, bernama Radiffa Ardhya Prananda. Sedangkan anak kedua pasangan bahagia ini adalah perempuan bernama Nandhika Ayshiara Calista yang lahir pada 11 Januari 2005.

Beberapa waktu lalu, ketika musim liburan sekolah tiba, mereka sekeluarga menyempatkan diri menjalankan ibadah umroh ke Mekkah. Pasangan keluarga harmonis ini rupanya ingin mengenalkan anaknya untuk lebih dekat dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.

Selain suami dan anak-anak, anggota keluarga juga diajak ikut serta, termasuk orang tua mereka. Tak hanya itu. Sebanyak 10  karyawan dan karyawati yang selama ini setia mendampingi Jeng Ana praktek juga diajak menemani. Ikut pula dalam rombongan itu komedian Rini S. Bonbon, yang sudah hampir seratus persen pulih dari sakitnya setelah ditangani secara khusus oleh Jeng Ana.

Sepulang dari umroh, Jeng Ana mengaku banyak mengambil manfaat dari perjalanan rohani itu. Dia bahkan mengaku ingin untuk bisa segera kembali ke rumah Allah itu. Bila tidak ada halangan, dalam waktu dekat ini Jeng Ana bersama suami dan beberapa stafnya akan kembali ke tanah suci. Kali ini dua buah hatinya tidak diajak ikut serta, karena memang bukan musim libur sekolah.

Sepulang umroh , Jeng Ana mengaku kian mantap melangkah sebagai herbalis. Ia merasa tidak salah dalam memilih profesi yang terbilang langka ini, dan menganggapnya sebagai tuntutan hidup yang harus dilaluinya.

“Selama di Tanah Suci  saya banyak mendapatkan pengalaman yang meneguhkan hati saya untuk terus berkarir sebagai seorang herbalis. Misalnya saja, tanpa pernah terlintas dalam pikiran saya, di sana saya kok bisa bertemu dengan beberapa orang pasien saya yang sudah sembuh. Bisa dibayangkan bagaimana keharuan yang terjadi diantara kami,”kisah Jeng Ana dengan mata berbinar.

Jeng Ana memang benar. Tak ada seorang pun yang bisa lari dari tuntutan hidupnya. Ia terlahir dengan bakat besar menjadi seorang pengobat. Garis hidup itulah yang membuat di mata perempuan yang satu ini , setiap jenis tumbuhan memiliki kahasiat dan kegunaan untuk pengobatan. Tinggal bagaimana cara meracik dan meramunya.

Maklum saja, sejak masih usia kanak-kanak Jeng Ana memang sudah mengenal berbagai jenis ilmu pengobatan tradisional. Pengetahuan ini diperolehnya baik secara gaib melaui hasil tirakat, maupun lewat pelajaran yang ia terima dari para gurunya.

Herbalis berkulit putih dan halus ini tidak menampik kalau sejak lama dirinya biasa membuat ramuan khusus untuk kaum wanita. Bahkan, jauh sebelum ia membuka klinik Herbal & Salon Aura yang kini berada di lima kota besar di Indonesia, dirinya sudah biasa menterapi kaum ibu rumah tangga.

Salah satu layanan herbal unggulan Jeng Ana adalah Terapi Aura Mandi Rempah, yakni mandi dengan racikan herbal yang diramu  secara khusus. Dikatakan khusus karena ramuan-ramuan ini tidak semata-mata berisi rempah-rempah pilihan, namun juga sudah diberi enegi atau aura gaib . Biasanya, sebelum bahan-bahan ramuan diracik, Jeng Ana terlebih dahulu melakukan ritual berupa puasa mutih, seraya mengamalkan doa-doa tertentu.

“Hal ini dimaksudkan agar ramuan nantinya benar-benar berkhasiat,” cetus Jeng Ana.

Sementara itu , Rini S. Bonbon mengaku bersyukur sebab bisa melakukan umroh meski kesehatannya belum benar-benar pulih seratus persen. “Saya bisa tawaf dan sa’i tanpa bantuan kursi roda. Bagi saya ini suatu kemukjizatan yang diberikan oleh Allah SWT,” ungkap Rini ketika ditemui selepas melakukan terapi peyegaran di klinik Jeng Ana.

Selama di Mekkah dan Madinah, Rini mengaku kondisi tubuhnya selalu bugar. Ia meyakini hal ini juga berkat restu dari ibunya, yang ketika ia memantapkan niat untuk berumroh dalam keadaan sakit dan berada di sebuah rumah sakit di Jakarta.

“Sebelum pergi saya mencium telapak kaki ibu. Saya percaya penuh inilah salah satunya yang membuat ibadah saya bisa berjalan lancar. Saya juga bersyukur sebab ketika di Mekkah saya mendengar berita ibu sudah bisa pulang dari rumah sakit,” pungkas Rini yang tak henti mengucapkan doa syukur ke hadirat Illahi Robbi. (*) 

 

Index