Info Terkini


Permalink to Klinik Herbal Jeng Ana Buka Cabang di Balikpapan

Klinik Herbal Jeng Ana Buka Cabang di Balikpapan

Kabar gembira bagi masyarakat daerah Balikpapan dan sekitarnya. Mulai tanggal 5 Februari 2014 ini, Klinik Herbal Jeng Ana membuka cabang di Balikpapan, kalimantan Timur.

Lokasi klinik cukup strategis dan mudah dijangkau, yakni di Ruko Jalan Jenderal Sudirman No. 41A. Seperti cabang-cabang lain, klinik ini dipimpin oleh asisten yang telah dipersiapkan khusus oleh Jeng Ana. Selain itu Jeng Ana sendiri juga akan rutin berpraktik disini minimal sekali dalam sebulan.

Menurut Jeng Ana, pembukaan cabang di Balikpapan ini untuk memenuhi permintaan para pasien yang berada di daerah Kalimantan. “Selama ini banyak sekali pasien yang datang langsung ke Jakarta dari Kalimantan. Ini tentunya sangat berat bagi mereka. Selaian ongkos transportasinya mahal, juga merepotkan. Apalagi bagi pasien yang penyakitnya berat. Karena itu, untuk mempermudah mereka, kami membuka cabang disana,” kata Jeng Ana di Jakarta, Jumat (31/1/2014).

Meskipun statusnya sebagai klinik cabang, Jeng Ana menjamin bahwa pelayanan yang diberikan sama dengan yang ada di klinik pusat. Baik cara penanganan maupun obat-obat yang diberikan kepada pasien, kata Jeng Ana, sama persis. “Karena asisten dan tenaga yang bertigas disana sudah dipersiapkan dan dilatih secara khusus. Sedangkan obat-obatan yang diberikan kepada pasien juga didatangkan langsung dari Jakarta. Jadi, saya sendiri yang meramu obat itu, kemudian dikirimkan ke cabang,” tutur perempuan murah senyum ini.

Karena itu, Jeng Ana meminta agar pasien tidak ragu untuk datang ke klinik cabang, baik yang di Balikpapan maupun cabang-cabang lainnya. “Kami punya standar untuk semua cabang, yang penerapannya kami jaga dengan ketat,” tegasnya.

Mengenai persyaratan bagi pasien yang berobat, Jeng Ana kembali mengingatkan agar calon pasien tidak lupa membawa rekam medis atau hasil uji lab. Sedangkan bagi mereka yang belum memiliki, Jeng Ana menyarankan untuk melakukan uji lab dulu sebelum datang ke klinik. “Mengapa harus begitu? Karena ini demi kebaikan pasien sendiri. Bukan berarti kami tidak bisa mendiagnosa penyakit yang diderita pasien, tetapi dengan rekam medis atau hasil lab yang dibawa, maka pasien akan lebih yakin dengan penyakit yang dideritanya sendiri. Sehingga dengan keyakinan itu, obat yang kami berikan juga bisa lebih mengena. Karena dalam berobat, keyakinan itu sangat penting,” ujar Jeng Ana.

Dalam rangka pembukaan klinik cabang Balikpapan, Jeng Ana akan praktik langsung di klinik baru itu pada tanggal 5 – 6 Februari nanti. Karena itu bagi para calon pasien di daerah Kalimantan dan sekitarnya yang hendak berobat sebaiknya mendaftar langsung ke klinik yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No.41A, Balikpapan, tersebut. (*)

 

 

 


Permalink to Tak Punya Uang Kemo Pasca Operasi Kanker, Bu Latifah Pilih Ke Jeng Ana

Tak Punya Uang Kemo Pasca Operasi Kanker, Bu Latifah Pilih Ke Jeng Ana

Apa yang dialami oleh Bu Latifah ini barangkali juga pernah menimpa Anda ataupun kerabat Anda. Setelah menjalani operasi kanker usus yang berbiaya mahal, perempuan berusia 50-an tahun ini masih harus merogoh uang jutaan rupiah untuk menjalani kemoterapi.

Kondisi ini dialami oleh Bu Latifah sekitar tahun lalu. Saat itu, sekitar 1,5 bulan lamanya Bu Latifah menderita sakit pada bagian pinggang secara terus-menerus. Karena gtidak tahan, maka dia pun kemudian membawanya ke dokter. Setelah menjalani pemeriksaan lab, walhasil dokter memvonisnya menderita kanker usus dan harus segera dioperasi. “Waktu itu saya menuruti saja apa kata dokter sehingga saya dioperasi,” terang Bu Latifah saat memberi kesaksian bersama Ratu Herbal Jeng Ana di Studio Jak TV, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selesainya pengangkatan kanker ternyata sama sekali bukan berarti Bu Lutfiah sembuh. Selama sekitar seminggu Bu Latifah mengaku tidak enak makan dan hampir 24 jam setiap hari tidak bisa tidur. Tak hanya itu, masih ada tahapan pengobatan, yakni kemoterapi yang harus dijalani secara rutin dalam jangka waktu cukup lama. “Kata dokter sekitar 10 tahun. Padahal untuk sekali kemo saja biayanya satu jutaan. Darimana saya uang sebanyak itu,” keluh Bu Latifah.

Dengan situasi seperti ini, menantu Bu Latifah yang kebetulan bekerja di bidang kesehatan lantas berkonsultasi dengan dokter di tempatnya bekerja. Sang dokter, kata Bu Latifah, menyarankan agar menempuh pengobatan herbal saja. “Itulah sebabnya sekitar seminggu kemudian kami datang ke Klinik Jeng Ana yang ada di Tangerang City,” paparnya.

Kepada Jeng Ana, Bu Latifah menyerakan semua rekam medis dan hasil lab dari dokter. Dari data-data tersebut, sambung Jeng Ana, terlihat bahwa terdapat bakteri, virus, dan juga alergi pada kanker yang dioperasi tersebut. “Itu terlihat dari data lab yang diberikan oleh dokter,” terang Jeng Ana.

Berdasarkan data-data tersebut, Jeng Ana kemudian meracikkan obat herbal yang sesuai dengan kondisi sang pasien. “Alhamdulillah hanya sekitar lima hari setelah mengkonsumsi ramuan dari Jeng Ana, kondisi badan saya sudah terasa pulih kembali. Sudah enak makan dan tidur. Badan juga rasanya lebih ringan,” ujar Bu Latifah.

Pada saat Bu Latifah datang untuk kedua kalinya ke Jeng Ana, sekitar dua bulan kemudian, kondisinya sudah benar-benar sehat. “Dari hasil lab nampak bahwa bakteri, virus dan juga alergi yang semula ada, kali ini sudah bersih. Hanya Hematokritnya saja yang masih bermasalah, mungkin karena imunnya belum 100 persen sembuh,” terang Jeng Ana.

Hemotokrit i proporsi volume darah, yang termasuk di dalamnya adalah eritrosit dan hemoglobin. Dalam kaitannya dengan imun, kata Jeng Ana, hemotorkti itu mensuplai  pembuluh darah otak kanan dan kiri. Kalau suplainya rendah, maka yang kita rasakan adalah pusing.

Nah, menyelesaikan paket kedua, sisa-sisa sel kanker yang biasanya harus dikemo itu kali ini sudah relatif bersih. Jadi, kata Jeng Ana, pada tahap ini kondisi pasien sudah mendekati sembuh total. Yang perlu dilakukan tinggal pemulihan.

Karena itu, Bu Latifah masih melanjutkan ke paket ketiga. Na, mengenai pembelian obat, Jeng Ana menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman pada pasien ataupun calon pasien. Bahwa Jeng Ana sama sekali tidak pernah memaksa atau mengharuskan pasien untuk membeli obat. “Ketika pasien datang, yang kami lakukan adalah memberi konsultasi, menjelaskan apa dan bagaimana sesuai dengan hasil rekam medis yang mereka bawa. Nah dari situ kami sampaikan bahwa untuk menyembuhkannya diperlukan obat ini dan itu. Soal apakah pasien membeli obatnya atau tidak, atau barangkali hanya membeli sebagian saja, itu sepenuhnya kami serahkan kepada pasien,” pungkas Jeng Ana. (*)

 


Permalink to Divonis Dokter Tak Bisa Punya Anak, Dewi Hamil Setelah Konsumsi Herbal Jeng Ana

Divonis Dokter Tak Bisa Punya Anak, Dewi Hamil Setelah Konsumsi Herbal Jeng Ana

Cinta lelaki bernama Manaf ini bisa dibilang sangat tulus terhadap kekasihnya, Dewi. Bagaimana tidak? Ketika dokter sudah memvonis Dewi 99 persen tidak bisa memiliki keturunan lantaran kista endometriosis yang dideritanya, Manaf tetap bertahan dengan cintanya, dan bahkan kemudian menikahinya.

“Saat dokter memvonis Dewi menderita kista endometriosis, kami belum menikah. Kata dokter spesialis waktu itu, peluang Dewi untuk bisa punya anak hanya sekitar 1 persen,” terang Manaf di Studio Jak TV, beberapa waktu lalu.

Toh Manaf tak menyerah. Dia tetap menikahi gadis pujaannya itu dan kemudian berusaha untuk mencari pengobatannya. Bagi Manaf, tidak ada yang tidak bisa disembuhkan bila memang Allah menghendaki. “Segala penyakit datangnya dari Allah, maka Allah juga pasti bisa menyembuhkannya bila kita terus berusaha dan berdoa,” ujarnya.

Dewi yang kebetulan bekerja di sebuah rumah sakit sudah menderita kista endometriosis sejak tahun 2006. Dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa kista bersarang di sel telur bagian kiri. Sesuai dengan saran dokter, maka Dewi saat itu menempuh langkah operasi dengan mengangkat sel telur bagian kiri.

Ironisnya, langkah operasi ini ternyata bukan merupakan akhir penderitaan Dewi yang kala itu baru berusia 25 tahun. Beberapa bulan kemudian dia merasakan adanya gangguan serupa, sehingga kembali memeriksakan diri ke dokter.

Betapa terkejutnya Dewi dan juga Manaf ketika hasil pemeriksaan USG yang dilakukan dokter spesialis itu memperlihatkan bahwa Dewi kembali mengidap kista endometriosis. Bila semula terjadi perlengketan pada sel telur sebelah kiri. Maka kali ini menimpa sel telur sebelah kanan. Hal inilah yang membuat dokter memvonis bahwa Dewi tidak akan bisa punya keturunan, karena dokter pasti akan menyarankan pengobatan dengan pengangkatan sel indung telur tersebut. Artinya Dewi tidak lagi memiliki sel indung telur.

Namun, kali ini Dewi dan Manaf yang telah menjadi pasangan suami-istri sepakat tidak memenuhi saran dokter untuk menempuh jalan operasi. Mereka berusaha menempuh pengobatan alternatif. Kebetulan yang menjadi pilihan pasangan ini adalah Klinik Herbal Jeng Ana.

“Saya datang ke Jeng Ana sekitar tahun 2008, saat itu usia saya 27 tahun. Waktu itu ukuran kista saya sudah 5,6 cm. Saya ceritakan semua apa yang saya alamai. Semua hasil lab juga saya sampaikan ke Jeng Ana. Setelah itu saya diberi paket ramuan,” terang Dewi.

Dua bulan kemudian, yakni ketika paket ramuan habis, Dewi melakukan uji lab. Hasilnya ternyata sangat mengembirakan. Kista yang semula berukuran 5,6 cm kali ini mengecil menjadi Cuma 2,5 cm. Kondisi ini membuat pasangan Manaf-Dewi semakin bersemangat melanjutkan pengobatan di Jeng Ana.

Mereka pun kembali ke Jeng Ana sambil memperlihatkan hasil USG terbaru. Setelah berkonsultasi, Jeng Ana kemudian memberikan paket kedua. “Sebelum paket kedua habis, alhamdulillah saya positif hamil,” ujar Dewi.

Karena itulah Manaf menyebut putrinya bernama Yeni, kini berusia sekitar 2,5 tahun, sebagai mukjizat dari Allah. “Sejak awal saya punya keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Kali ini melalui perantara Jeng Ana, akhirnya istri saya yang divonis dokter tidak bisa punya anak ternyata bisa melahirkan putri cantik ini,” kata Manaf bangga.

Atas pengalaman itu, Manaf berpesan kepada para penderita kista agar tidak putus asa. Teruslah berusaha dan berdoa. “Yakinlah bahwa kalau kita bersungguh-sungguh memohon dan berusaha, insyaAllah ada hasilnya. Saya sendiri membuktikannya melalui pengobatan Jeng Ana,” pesan Manaf. (*)

Page 6 of 59« First...45678102030...Last »

Index