Info Terkini


Permalink to Idap Penyakit Mematikan, Cinta Penelope Berobat ke Jeng Ana

Idap Penyakit Mematikan, Cinta Penelope Berobat ke Jeng Ana

Klinik Herbal Jeng Ana yang berlokasi di Jalan Kalibata Timur I, No.47 Jakarta Selatan, pekan lalu, kembali disambangi selebriti yang mempunyai masalah dengan kesehatannya. Kali ini, adalah Cinta Penelope bersama Dony sang kekasih yang berencana naik pelaminan pada 5 Maret mendatang.

Dihadapan Jeng Ana, Cinta menceritakan penyakitnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, kata Cinta, dirinya mengalami kekurangan kalium. “Jadi kaliumku 3,2. Dan itu kata dokter sangat bahaya, karena banyak yang berakhir dengan kematian kalau tidak diatasi dengan cepat,” ungkap perempuan pemeran di film Jeritan Danau Terlarang tak kuasa menahan tangisnya.

Sebab bagi Cinta kesedihan yang luar biasa bukan karena rencana pernikahan yang harus tertunda, tetapi karena saat ia mendengarkan penjelasan dari dokter terkait sakitnya itu. Oleh sebab itu tutur Cinta, “Pernah sampai kehilangan kesadaran, mungkin karena sakit yang amat sangat ya di bagian kepala. Sehingga karena ngedrop,  Aku pingsan di rumah. Seluruh listrik di tubuh aku seperti mati, blank semua.”

Untuk itu, Jeng Ana, meminta Cinta untuk tetap menjaga kondisi. Kalaupun pernikahan tetap dilaksanakan, dia meminta Cinta tidak terlalu lelah.

“Sebab kalau saya lihat dari hasil lab, memang ada pembengkakan di limpa akibat kurangnya kalium. Tapi tetap bisa disembuhkan, asalkan Cinta punya semangat dan menjalani terapi dengan teratur,” pinta Jeng Ana terakhir sempat menangani Mpok Nori lantaran terserang neprosiasis.

“Untuk saat ini tidak memungkinkan buat Cinta untuk berdiri terlalu lama. Berisiko tinggi, dia bisa pingsan. Makanya harus dijaga saja kondisinya supaya keseimbangan tubuh tetap terjaga,” ujar Ratu Herbal Indonesia.

Sebab kekurangan kalsium itu, merupakan salah satu jenis penyakit yang menyerang fungsi otot dan tubuh akan mudah lelah, sehingga sulit untuk beraktivitas. Bahkan, penyakit tersebut kabarnya tergolong penyakit yang mematikan. “Makanya sama Aku dokter sempat bilang kalau telat dalam penanganan bisa tak berumur panjang,” celoteh Cinta kalem.

Demi mengerti lebih mendalam, maka Cinta sempatkan untuk mencarinya di internet. “Karena dokter bilang kalau penyakit aku ini bahaya. Makanya saat googling ternyata di angka tiga. Itu memang bahaya, bisa kena stroke. Di angka dua itu bisa sebabkan kematian,” kata Cinta yang pernah terkena penyakit ginjal.

“Makaya dulu karena sakit ginjal Aku divonis tiga bulan umurnya. Eh sekarang vonisnya bukan tiga bulan, malah lebih cepat,” ucap Cinta kelahiran Jakarta, 15 April 1984.

“Pokoknya sepanjang taat dan mengikuti secara rutin untuk mengkonsumsi ramuan herbal. Insya Allah bisa disembuhkan,” tegas Jeng Ana, Ratu Herbal Indonesia.


Permalink to Klinik Herbal Jeng Ana Buka Cabang di Balikpapan

Klinik Herbal Jeng Ana Buka Cabang di Balikpapan

Kabar gembira bagi masyarakat daerah Balikpapan dan sekitarnya. Mulai tanggal 5 Februari 2014 ini, Klinik Herbal Jeng Ana membuka cabang di Balikpapan, kalimantan Timur.

Lokasi klinik cukup strategis dan mudah dijangkau, yakni di Ruko Jalan Jenderal Sudirman No. 41A. Seperti cabang-cabang lain, klinik ini dipimpin oleh asisten yang telah dipersiapkan khusus oleh Jeng Ana. Selain itu Jeng Ana sendiri juga akan rutin berpraktik disini minimal sekali dalam sebulan.

Menurut Jeng Ana, pembukaan cabang di Balikpapan ini untuk memenuhi permintaan para pasien yang berada di daerah Kalimantan. “Selama ini banyak sekali pasien yang datang langsung ke Jakarta dari Kalimantan. Ini tentunya sangat berat bagi mereka. Selaian ongkos transportasinya mahal, juga merepotkan. Apalagi bagi pasien yang penyakitnya berat. Karena itu, untuk mempermudah mereka, kami membuka cabang disana,” kata Jeng Ana di Jakarta, Jumat (31/1/2014).

Meskipun statusnya sebagai klinik cabang, Jeng Ana menjamin bahwa pelayanan yang diberikan sama dengan yang ada di klinik pusat. Baik cara penanganan maupun obat-obat yang diberikan kepada pasien, kata Jeng Ana, sama persis. “Karena asisten dan tenaga yang bertigas disana sudah dipersiapkan dan dilatih secara khusus. Sedangkan obat-obatan yang diberikan kepada pasien juga didatangkan langsung dari Jakarta. Jadi, saya sendiri yang meramu obat itu, kemudian dikirimkan ke cabang,” tutur perempuan murah senyum ini.

Karena itu, Jeng Ana meminta agar pasien tidak ragu untuk datang ke klinik cabang, baik yang di Balikpapan maupun cabang-cabang lainnya. “Kami punya standar untuk semua cabang, yang penerapannya kami jaga dengan ketat,” tegasnya.

Mengenai persyaratan bagi pasien yang berobat, Jeng Ana kembali mengingatkan agar calon pasien tidak lupa membawa rekam medis atau hasil uji lab. Sedangkan bagi mereka yang belum memiliki, Jeng Ana menyarankan untuk melakukan uji lab dulu sebelum datang ke klinik. “Mengapa harus begitu? Karena ini demi kebaikan pasien sendiri. Bukan berarti kami tidak bisa mendiagnosa penyakit yang diderita pasien, tetapi dengan rekam medis atau hasil lab yang dibawa, maka pasien akan lebih yakin dengan penyakit yang dideritanya sendiri. Sehingga dengan keyakinan itu, obat yang kami berikan juga bisa lebih mengena. Karena dalam berobat, keyakinan itu sangat penting,” ujar Jeng Ana.

Dalam rangka pembukaan klinik cabang Balikpapan, Jeng Ana akan praktik langsung di klinik baru itu pada tanggal 5 – 6 Februari nanti. Karena itu bagi para calon pasien di daerah Kalimantan dan sekitarnya yang hendak berobat sebaiknya mendaftar langsung ke klinik yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No.41A, Balikpapan, tersebut. (*)

 

 

 


Permalink to Tak Punya Uang Kemo Pasca Operasi Kanker, Bu Latifah Pilih Ke Jeng Ana

Tak Punya Uang Kemo Pasca Operasi Kanker, Bu Latifah Pilih Ke Jeng Ana

Apa yang dialami oleh Bu Latifah ini barangkali juga pernah menimpa Anda ataupun kerabat Anda. Setelah menjalani operasi kanker usus yang berbiaya mahal, perempuan berusia 50-an tahun ini masih harus merogoh uang jutaan rupiah untuk menjalani kemoterapi.

Kondisi ini dialami oleh Bu Latifah sekitar tahun lalu. Saat itu, sekitar 1,5 bulan lamanya Bu Latifah menderita sakit pada bagian pinggang secara terus-menerus. Karena gtidak tahan, maka dia pun kemudian membawanya ke dokter. Setelah menjalani pemeriksaan lab, walhasil dokter memvonisnya menderita kanker usus dan harus segera dioperasi. “Waktu itu saya menuruti saja apa kata dokter sehingga saya dioperasi,” terang Bu Latifah saat memberi kesaksian bersama Ratu Herbal Jeng Ana di Studio Jak TV, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selesainya pengangkatan kanker ternyata sama sekali bukan berarti Bu Lutfiah sembuh. Selama sekitar seminggu Bu Latifah mengaku tidak enak makan dan hampir 24 jam setiap hari tidak bisa tidur. Tak hanya itu, masih ada tahapan pengobatan, yakni kemoterapi yang harus dijalani secara rutin dalam jangka waktu cukup lama. “Kata dokter sekitar 10 tahun. Padahal untuk sekali kemo saja biayanya satu jutaan. Darimana saya uang sebanyak itu,” keluh Bu Latifah.

Dengan situasi seperti ini, menantu Bu Latifah yang kebetulan bekerja di bidang kesehatan lantas berkonsultasi dengan dokter di tempatnya bekerja. Sang dokter, kata Bu Latifah, menyarankan agar menempuh pengobatan herbal saja. “Itulah sebabnya sekitar seminggu kemudian kami datang ke Klinik Jeng Ana yang ada di Tangerang City,” paparnya.

Kepada Jeng Ana, Bu Latifah menyerakan semua rekam medis dan hasil lab dari dokter. Dari data-data tersebut, sambung Jeng Ana, terlihat bahwa terdapat bakteri, virus, dan juga alergi pada kanker yang dioperasi tersebut. “Itu terlihat dari data lab yang diberikan oleh dokter,” terang Jeng Ana.

Berdasarkan data-data tersebut, Jeng Ana kemudian meracikkan obat herbal yang sesuai dengan kondisi sang pasien. “Alhamdulillah hanya sekitar lima hari setelah mengkonsumsi ramuan dari Jeng Ana, kondisi badan saya sudah terasa pulih kembali. Sudah enak makan dan tidur. Badan juga rasanya lebih ringan,” ujar Bu Latifah.

Pada saat Bu Latifah datang untuk kedua kalinya ke Jeng Ana, sekitar dua bulan kemudian, kondisinya sudah benar-benar sehat. “Dari hasil lab nampak bahwa bakteri, virus dan juga alergi yang semula ada, kali ini sudah bersih. Hanya Hematokritnya saja yang masih bermasalah, mungkin karena imunnya belum 100 persen sembuh,” terang Jeng Ana.

Hemotokrit i proporsi volume darah, yang termasuk di dalamnya adalah eritrosit dan hemoglobin. Dalam kaitannya dengan imun, kata Jeng Ana, hemotorkti itu mensuplai  pembuluh darah otak kanan dan kiri. Kalau suplainya rendah, maka yang kita rasakan adalah pusing.

Nah, menyelesaikan paket kedua, sisa-sisa sel kanker yang biasanya harus dikemo itu kali ini sudah relatif bersih. Jadi, kata Jeng Ana, pada tahap ini kondisi pasien sudah mendekati sembuh total. Yang perlu dilakukan tinggal pemulihan.

Karena itu, Bu Latifah masih melanjutkan ke paket ketiga. Na, mengenai pembelian obat, Jeng Ana menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman pada pasien ataupun calon pasien. Bahwa Jeng Ana sama sekali tidak pernah memaksa atau mengharuskan pasien untuk membeli obat. “Ketika pasien datang, yang kami lakukan adalah memberi konsultasi, menjelaskan apa dan bagaimana sesuai dengan hasil rekam medis yang mereka bawa. Nah dari situ kami sampaikan bahwa untuk menyembuhkannya diperlukan obat ini dan itu. Soal apakah pasien membeli obatnya atau tidak, atau barangkali hanya membeli sebagian saja, itu sepenuhnya kami serahkan kepada pasien,” pungkas Jeng Ana. (*)

 

Page 6 of 59« First...45678102030...Last »

Index