Kesaksian


Permalink to Bu Mujiati Akhirnya Terbebas dari Kanker Payudara Stadium 4

Bu Mujiati Akhirnya Terbebas dari Kanker Payudara Stadium 4

Tak terhitung sudah berapa jenis pengobatan yang sudah dilakukan Bu Mujiati untuk menyembuhkan kanker payudara yang dideritanya. Saat  itu, awal 2012, kondisi kanker yang dideritanya sudah sangat parah.

“Padahal waktu itu saya sudah berobat kemana-mana, khususnya pengobatan alternatif dan herbal. Karena saya memang tidak ingin melakukan operasi. Mulai dari mereka yang terkenal di televisi sampai yang kurang dikenal masyarakat sudah pernah saya datangi. Tetapi kanker payudara tidak juga membaik, bahkan sudah membusuk,” terang Bu Mujiati di Bandung, beberapa waktu lalu.

Toh Bu Mujiati tak pantang menyerah. Perempuan berusia sekitar 60-an ini berkeyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberinya kesembuah bila terus berusaha dan bersabar. Hingga suatu ketika Bu Mujiati mendengar soal pengoabatan herbal di Klinik Jeng Ana dari sebuah stasiun televisi.

“Waktu itu saya melihat kesaksian seorang pasien Jeng Ana yang juga menderita kanker payudara dan sudah sembuh. Sejak saat itu saya langsung tertarik dan memantapkan hati untuk segera berobat ke Jeng Ana,” ujarnya.

Kala itu, kata Bu Mujiati, kondisi payudaranya sudah membusuk. Tidak hanya luka dan berlubang, tetapi juga menebarkan aroma tak sedap. “Saya datang ke Klinik Jeng Ana sekitar bulan Maret 2012 yang lalu. Sesuai dengan syarat dari Klinik Jeng Ana, saya datang dengan membawa rekam medis yang sudah saya miliki. Alhamdulillah waktu itu Jeng Ana sendiri yang menangani saya secara langsung,” jelasnya.

Setelah berkonsultasi dan diperiksa oleh Jeng Ana, Bu Mujiati pun mendapatkan arahan dan obat-oabatan untuk penyakitnya, mulai dari herbal rebus, kapsul, sarang semut hingga salep. Ada tambahan salep karena kanker yang diderita Bu Mujiati sudah menimbulkan luka.

Sesampai di rumahnya, Bu Mujiati pun memenuhi dan mematuhi semua arahan Jeng Ana, termasuk penerapan pola makan yang sehat dengan berbagai macam pantangannya. “Hasilnya alhamdulillah. Baru seminggu setelah berobat, saya sudah merasakan perkembangan. Luka kanker payudara saya sudah pelahan mulai mengering,” jelasnya.

Perkembangan ini semakin membuat Bu Mujiati bersemangat untuk melanjutkan pengobatan. Memasuki paket kedua, kondisi luka tidak hanya mengering, tetapi luka atau lubang nya mulai menutup. “Saya terus melanjutkan ke paket selanjutnya sampai sekarang ini. Dan alhamdulillah sekarang Anda bisa melihat sendiri kondisi saya sudah sangat sehat, meskipun belum sembuh sepenuhnya tetapi  benjolannya sudah semakin mengecil dan hampir hilang sama sekali,” terang Bu Mujiati.

Bu Mujiati pun tak bisa mengungkapkan rasa gembiranya atas kesembuhan ini. Meski prosesnya cukup lama, yakni mulai bulan Maret 2012 sampai saat ini, namun menurut Bu Mujiati, kesembuhan yang dialaminya benar-benar nyata. “Bayangkan dulu saya sudah hampir putus asa karena saya memang tidak mau dioperasi karena saya tidak yakin kalau kanker bisa sembuh dengan cara operasi. Tetapi sekarang saya bisa segar bugar, dan insyaAllah tidak lama lagi akan sembuh total,” katanya.

Yang menarik, pengobatan ini  ternyata tidak hanya menyembuhkan kanker yang dideritanya, melainkan juga berefek positip terhadap asam urat yang juga sudah lama diderita Bu Mujiati. “Dulu sebelum berobat ke Jeng Ana, asam urat saya mencapai 7,5 mg/dl. “Sekarang sudah jauh menurun menjadi  4,5 mg/dI. Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana rasa terimakasih saya kepada Jeng Ana,” ungkap Bu Mujiati sambil meneteskan air mata haru.

 

 


Permalink to ‘Semula Saya Lumpuh karena Stroke, Kini Sudah Bisa Jalan Normal’

‘Semula Saya Lumpuh karena Stroke, Kini Sudah Bisa Jalan Normal’

Perempuan lanjut usia ini tak bisa menahan tangis harunya saat ditanya perihal kesehatannya. Meski rasa sakit belum sepenuhnya hilang, namun wanita yang akrab disapa Ibu Cucun ini sangat gembira karena terbebas dari lumpuh yang semula mengancamnya.

“Penyakit stroke yang saya derita waktu itu sangat parah. Jangankan untuk berjalan, bicara dan bergerak saja tidak bisa,” aku Ibu Cucun di Klinik Jeng Ana Cabang Bandung, beberapa waktu lalu.

Berbagai bentuk pengobatan sudah ditempuhnya, mulai dari medis hingga alternatif, namun stroke yang dideritanya tak kunjung membaik. Kondisi ini sempat membuat keluarga Ibu Cucun putus asa. Hingga akhirnya sekitar bulan Juli 2012 lalu Ibu Cucun memutuskan untuk berobat ke Klinik Herbal Jeng Ana setelah mengetahuinya dari salah satu stasiun televisi.

“Waktu itu saya datang ke Klinik Jeng Ana yang di Jakarta, dan kebetulan ditangani oleh Jeng Ana sendiri,” terangnya. Kala itu Ibu Cucun datang ke klinik Jeng Ana dengan cara dipopong oleh sanak keluarganya.

Dan ternyata, menurut Ibu Cucun, ikhtiarnya untuk berobat ke Jeng Ana tidak sia-sia. Hanya sekitar dua minggu setelah mengkonsumsi ramuan herbal yang diberi Jeng Ana kondisinya berangsur membaik. “Saya saat itu sudah mulai bisa bergerak-gerak dan juga bicara, meski belum jelas seperti sekarang,” ujarnya.

Perkembangan baik ini menjadi semangat tersendiri bagi Ibu Cucun untuk lebih serius dalam melakukan pengobatan di Jeng Ana. Ia memenuhi semua arahan-arahan yang disampaikan Jeng Ana, terutama mengenai pola makan dan pantangan-pantangannya. “Setelah habis paket pertama, saya melanjutkan paket kedua. Kali ini hasilnya jauh lebih baik, karena saya sudah mulai bisa berjalan meski belum lancar. Bahkan saya sudah mulai bisa menyapu rumah,” terangnya.

Kesehatannya pun pelahan berangsur membaik. Dan bahkan ketika datang ke Klinik Jeng Ana cabang Bandung, 25 Desember 2012 lalu, Ibu Cucun sudah bisa berjalan lancar dan tegak. “Saya benar-benar bahagia karena saya akhirnya bisa sembuh dari stroke dan bisa berjalan lagi,” ujar perempuan berusia 60-an tahun ini.

Hanya saja, menurut Ibu Cucun, pada bagian punggung  masih terasa agak sakit. Karena itu dia tidak tahan kalau duduk atau berdiri dalam waktu terlalu lama. “Memang saya belum sepenuhnya sehat, karena punggung saya memang masih sakit. Karena itu saya masih terus melanjutkan pengobatan di Jeng Ana sampai sekarang,” akunya.

Meski demikian, bagi Ibu Cucun, kondisi seperti ini sudah dianggapnya sembuh dari stroke. “Bayangkan, dulu saya lumpuh dan tidak bisa bergerak, sedangkan sekarang sudah bisa berjalan sendiri sampai ke klinik ini. Saya benar-benar bersyukur,” katanya seraya menahan tangis haru.

 


Permalink to Kanker Serviks Bu Erna Sembuh Hanya dengan Satu Paket

Kanker Serviks Bu Erna Sembuh Hanya dengan Satu Paket

Penyakit kanker memang tidak mengenal usia. Tua atau pun muda bisa terkena penyakit mematikan ini.  Seperti yang dialami oleh Bu Erna yang kini usianya sudah sekitar 60-an tahun.

Perempuan berkulit kuning langsat ini sempat disarankan dokter untuk menjalani operasi pengangkatan rahim gara-gara kanker serviks yang dideritanya. Ceritanya, kata Bu Erna, penyakit yang dideritanya itu berawal dari keputihan yang dialaminya.

“Semula saya kira hanya keputihan biasa karena capek atau apa gitu, karena tidak terasa sakit sama sekali. Karena itu saya biarkan. Eh sekitar dua bulan kemudian flek-flek yang keluar semakin banyak. Karena itu saya bicarakan sama anak-anak,” tutur Bu Erna saat mendampingi Jeng Ana di acara ‘Medika Natura’ di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Anak-Anak Bu Erna kemudian menyarankan untuk memeriksakannya ke dokter kandungan.  “Disini dilakukan pemeriksaan darah dan kemudian biopsi. Dari biopsi ini kemudian diketahui bahwa ternyata saya tengah menderita kanker serviks,” terang Bu Erna.

Meski kanker serviks yang diderita Bu Erna baru stadium 1B, namun dokter tetap menyarankan agar dilakukan operasi angkat rahim. Mendengar saran dokter, Bu Erna tidak begitu saja memenuhinya. “Saya kan sudah tua, yang saya takutkan itu pasca operasinya. Karena itu saya kembali rundingkan dengan anak-anak, dan mereka justru menyaran agar saya berobat ke Jeng Ana,” ujarnya.

Kebetulan waktu itu Jeng Ana sendiri yang menangani Bu Erna.  “Setelah berkonsultasi dengan Jeng Ana, kami pulang diberi satu paket obat, termasuk aturan-aturan pola makan dan pantangan-pantangannya,” terang Bu Erna.

Karena ingin cepat sembuh, Bu Erna pun mematuhi semua arahan yang disampaikan Jeng Ana. “Pada hari pertama setelah mengkonsumsi obat memang belum terasa dampaknya sma sekali. Tetapi pada gari kedua dan ketiga, alhamdulillah flek-fleknya sudah berhenti. Tetapi saya terus meminum obatnya. Sekitar sebulan kemudian, benar apa yang dikatakan Jeng Ana waktu kami konsultasi, bahwa keluar  seperti hitam-hitam gitu. Baru setelah itu saya periksakan ke lab dan ternyata saya dinyatakan sembuh,” ujar Bu Erna.

Meski demikian, Bu Erna tetap mengkonsumsi obat sampai habis, hingga kemudian datang lagi ke Jeng Ana untuk memastikan kesembuhannya dengan membawa hasil uji lab terakhir. “Alhamdulillah saya memang sudah dinyatakan sembuh,” kata Bu Erna senang.

Menurut Jeng Ana, cepatnya kesembuhan yang dialami Bu Erna karena saat itu masih stadium 1B. “Pengobatan kanker stadium ini relatif jauh lebih cepat dibanding kalau sudah stadium lanjut. Apalagi kalau pasien mamtuhi semua aturan yang kami sampaikan, insyaAllah kesembuhan jauh lebih cepat,” terang Jeng Ana.

Karena itu pemilik Klinik Herbal Jeng Ana ini mengingatkan agar kaum perempuan jangan sampai mengabaikan papsmear atau USG kalau merasakan adanya sesuatu yang aneh pada organ kewanitaannya. “Banyak kami jumpai di kalangan pasien yang datang, bahwa akibat kelalaian atau keteledorannya melakukan papsmear atau USG sehingga terlambat mengetahui adanya kanker hingga sudah mencapai stadium 3 atau 4. Ini yang membuat lama pengobatannya karena pada stadium lanjut tentunya sudah terjadi komplikasi,” terang Jeng Ana.

Khusus mengenai kanker serviks, kata Jeng Ana, memang banyak dialami para ibu yang sudah berusia tua. “Biasanya sekitar usia 50-an atau 60-an. Ini terjadi karena biasanya mereka lalai atau membiarkan ketika keluar cairan atau flek-flek,” ujarnya.

Karena itu, pesan Jeng Ana, kalau ibu-ibu yag berusia lanjut mengalami flek sebaiknya segera melakukan pemeriksaan. “Karena perempuan yang sudah menopause kan sudah tidak mengeluarkan cairan putih. Jadi kalau tiba-tiba keluar, maka segeralah melakukan pemeriksaan agar tidak terlambat kalau terjadi kanker misalnya,” ujar Jeng Ana.

 

 

Page 10 of 19« First...89101112...Last »

Index