Category Archives: Kesaksian


Permalink to Kanker Serviks Bu Erna Sembuh Hanya dengan Satu Paket

Kanker Serviks Bu Erna Sembuh Hanya dengan Satu Paket

Penyakit kanker memang tidak mengenal usia. Tua atau pun muda bisa terkena penyakit mematikan ini.  Seperti yang dialami oleh Bu Erna yang kini usianya sudah sekitar 60-an tahun.

Perempuan berkulit kuning langsat ini sempat disarankan dokter untuk menjalani operasi pengangkatan rahim gara-gara kanker serviks yang dideritanya. Ceritanya, kata Bu Erna, penyakit yang dideritanya itu berawal dari keputihan yang dialaminya.

“Semula saya kira hanya keputihan biasa karena capek atau apa gitu, karena tidak terasa sakit sama sekali. Karena itu saya biarkan. Eh sekitar dua bulan kemudian flek-flek yang keluar semakin banyak. Karena itu saya bicarakan sama anak-anak,” tutur Bu Erna saat mendampingi Jeng Ana di acara ‘Medika Natura’ di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Anak-Anak Bu Erna kemudian menyarankan untuk memeriksakannya ke dokter kandungan.  “Disini dilakukan pemeriksaan darah dan kemudian biopsi. Dari biopsi ini kemudian diketahui bahwa ternyata saya tengah menderita kanker serviks,” terang Bu Erna.

Meski kanker serviks yang diderita Bu Erna baru stadium 1B, namun dokter tetap menyarankan agar dilakukan operasi angkat rahim. Mendengar saran dokter, Bu Erna tidak begitu saja memenuhinya. “Saya kan sudah tua, yang saya takutkan itu pasca operasinya. Karena itu saya kembali rundingkan dengan anak-anak, dan mereka justru menyaran agar saya berobat ke Jeng Ana,” ujarnya.

Kebetulan waktu itu Jeng Ana sendiri yang menangani Bu Erna.  “Setelah berkonsultasi dengan Jeng Ana, kami pulang diberi satu paket obat, termasuk aturan-aturan pola makan dan pantangan-pantangannya,” terang Bu Erna.

Karena ingin cepat sembuh, Bu Erna pun mematuhi semua arahan yang disampaikan Jeng Ana. “Pada hari pertama setelah mengkonsumsi obat memang belum terasa dampaknya sma sekali. Tetapi pada gari kedua dan ketiga, alhamdulillah flek-fleknya sudah berhenti. Tetapi saya terus meminum obatnya. Sekitar sebulan kemudian, benar apa yang dikatakan Jeng Ana waktu kami konsultasi, bahwa keluar  seperti hitam-hitam gitu. Baru setelah itu saya periksakan ke lab dan ternyata saya dinyatakan sembuh,” ujar Bu Erna.

Meski demikian, Bu Erna tetap mengkonsumsi obat sampai habis, hingga kemudian datang lagi ke Jeng Ana untuk memastikan kesembuhannya dengan membawa hasil uji lab terakhir. “Alhamdulillah saya memang sudah dinyatakan sembuh,” kata Bu Erna senang.

Menurut Jeng Ana, cepatnya kesembuhan yang dialami Bu Erna karena saat itu masih stadium 1B. “Pengobatan kanker stadium ini relatif jauh lebih cepat dibanding kalau sudah stadium lanjut. Apalagi kalau pasien mamtuhi semua aturan yang kami sampaikan, insyaAllah kesembuhan jauh lebih cepat,” terang Jeng Ana.

Karena itu pemilik Klinik Herbal Jeng Ana ini mengingatkan agar kaum perempuan jangan sampai mengabaikan papsmear atau USG kalau merasakan adanya sesuatu yang aneh pada organ kewanitaannya. “Banyak kami jumpai di kalangan pasien yang datang, bahwa akibat kelalaian atau keteledorannya melakukan papsmear atau USG sehingga terlambat mengetahui adanya kanker hingga sudah mencapai stadium 3 atau 4. Ini yang membuat lama pengobatannya karena pada stadium lanjut tentunya sudah terjadi komplikasi,” terang Jeng Ana.

Khusus mengenai kanker serviks, kata Jeng Ana, memang banyak dialami para ibu yang sudah berusia tua. “Biasanya sekitar usia 50-an atau 60-an. Ini terjadi karena biasanya mereka lalai atau membiarkan ketika keluar cairan atau flek-flek,” ujarnya.

Karena itu, pesan Jeng Ana, kalau ibu-ibu yag berusia lanjut mengalami flek sebaiknya segera melakukan pemeriksaan. “Karena perempuan yang sudah menopause kan sudah tidak mengeluarkan cairan putih. Jadi kalau tiba-tiba keluar, maka segeralah melakukan pemeriksaan agar tidak terlambat kalau terjadi kanker misalnya,” ujar Jeng Ana.

 

 


Permalink to Divonis Dokter Sulit Punya Anak Ternyata Hamil Setelah 3 Bulan ke Klinik Jeng Ana

Divonis Dokter Sulit Punya Anak Ternyata Hamil Setelah 3 Bulan ke Klinik Jeng Ana

Jangan pernah putus asa bila dokter memvonis tidak bisa memiliki keturunan karena penyakit kewanitaan yang Anda alami. Karena bila kita terus berusaha dan Tuhan menunjukkan jalannya, maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi, termasuk soal keturunan.

Inilah yang dialami oleh pasangan Ibu Nur Hidayati dan Iwan. Pasangan paruh baya dari Bandung ini memang sempat shock ketika pada tahun 2008 dokter memvonisnya sulit memiliki anak. Penyebabnya adalah kista endometriosis yang sudah dua kali diamali perempuan murah senyum ini.

Menurut Nur, penyakit kista endometriosis itu sudah dialaminya sejak tahun 2005. Pada awal 2006, katanya, dia diantar sang suami melakukan pemeriksaan ke dokter. “Dokter waktu itu menyarankan saya untuk segera melakukan operasi. Kami pun memenuhi saran tersebut, sehingga operasi pengangkatan kista endometriosis itu dilakukan,” jelas Nur Hidayati.

Karena merasa dirinya sudah sembuh, maka Nur melanjutkannya dengan terapi keturunan pada dokter yag sama. Sayangnya, sudah setahun menjalani terapi namun tak kunjung ada tanda-tanda kehamilan. “Waktu itu dokter memberikan obat penyubur setiap bulan. Karena sudah setahun tak membuahkan hasil, maka kami memutuskan untuk berhenti,” terangnya.

Atas kesepatan dengan sang suami, Nur kemudian mencoba cara alternatif. Menurut Iwan, sang suami, beberapa tempat pengobatan alternatif waktu itu sudah didatangi. “Selama hampir dua tahun kami kesana kemari mencari pengobatan alternatif. Betapa terkejutnya ketika kami memeriksakan kembali ke dokter ternyata dikatan bahwa kista endometriosis istri saya tumbuh lagi,” ujar Iwan.

Waktu itu dokter tidak menyarankan jalan operasi, hanya memberi obat-obatan saja untuk diminum. Namu, seraya mengkonsumsi obat dari dokter, pasangan ini juga terus berusaha mencari pengobatan alternatif yang tepat. “Kebetulan kami menonton acara Jeng Ana di televisi dan kami tertarik, sehingga kami memutuskan untuk datang ke klinik Jeng Ana cabang Bandung,” tutur Nur.

Ketika datang ke klinik, Nur ditangani oleh asisten. Ibu Nur pun kemudian diberi paket herbal berupa ramuan godok dan kapsul ekstrak herbal. Selain itu tentu saja juga diberi panduan pola makan yang dibuat langsung oleh Jeng Ana.

“Alhamdulillah ketika paket pertama habis, saya merasakan perkembangan yang sangat berarti. Bila semula kalau menstruasi terasa sakit dan tidak lancar, kali ini sama sekali tidak sakit dan lancar, ya bisa dikatakan normal,” jelas Nur.

Nur pun melanjutkan pengobatan dengan mengambil paket kedua. Perkembangan yang dialami Nur selanjutnya benar-benar mengejutkan. “Pada bulan ketiga, saya agak bingung karena biasanya datang bulan pada tanggal 20 tetapi sampai tanggal 23 belum juga haid. Maka, saya memeriksakan diri ke dokter. Betapa terkejutnya ketika dokter mengatakan bahwa saya positip hamil,” terang Nur seraya tersenyum.

Pihak dokter sendiri juga terkejut dengan apa yang dialami Nur. Karena dokter itu juga yang semula mengatakan bahwa ibu muda ini tidak bisa memiliki keturunan. Dokter juga lebih terkejut, kata Nur, ketika memeriksa kondisi kista yang diderita Nur ternyata sudah tidak ada lagi. “Saya benar-benar bersyukur. Ini suaru anugerah dari Allah melalui jalur Klinik Jeng Ana,” tegas Nur.

Kehamilan Nur pun berjalan lancar, dan kemudian lahir seorang putri cantik yang sehat dan lucu. Kini balita yang diberi nama Kartika ini sudah berumur 1,5 tahun. “Sejak lahir sangat sehat, dan pertumbuhannya juga sangat cepat,” tambah Iwan.

Terhadap apa yang dialami oleh Nur, Jeng Ana menjelaskan bahwa dalam memilih pengobatan alternatif sebaiknya masyarakat harus berhati-hati. “Jangan sembarangan.  Seperti yang dialami oleh Ibu Nur selama dua tahun berobat ke alternatif lain ternyata justru kista endometriosisnya tumbuh lagi. Ini mengapa? Karena seperti halnya pengomatan medis atau dokter yang terkadang terjadi malpraktek, di bidang pengobatan alternatif juga bisa terjadi hal yang sama,” terang jeng Ana.

Yang jelas, tambah Jeng Ana, pengobatan alternatif itu membutuhkan ketepatan dalam menentukan jenis dan komposisi ramuan yang sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. “Bila tidak memperhatikan hal tersebut, ya jangan berharap bisa sembuh,” tutur wanita anggun ini.

Di klinik Jeng Ana selalu mengharuskan pasien untuk membawa rekam media ketika berobat atau menjalani terapi. Hal ini dibutuhkan agar  bisa membuatkan obat dengan takaran atau komposisi yang tepat sesuai dengan kondisi penyakitnya. “Obat tradisonal itu bila tidak tepat komposisinya, maka sulit sembuh. Kami menggunakan jenis jamu godok, karena saripatinya benar-benar natural, yaitu yang diminum dari air rebusannya itu. Jadi, bukannya serbuk yang kemudian diseduh dengan air panas. Itu justru tidak boleh,” terang Jeng Ana.

 


Permalink to Sembuh dengan Herbal Setelah Bertahun-Tahun Menderita Asam Lambung Akut

Sembuh dengan Herbal Setelah Bertahun-Tahun Menderita Asam Lambung Akut

Pasangan suami istri, Toni dan Sudarni, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika menyampaikan kesaksian bersama Jeng Ana di stasiun televisi Jak TV, beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak, berkat bantuan pemilik Klinik Herbal Jeng Ana itu Sudarni bisa terlepas dari siksaan penyakit asam lambung akut yang dideritanya sejak tahun 2007.

Sang suami, Toni, merupakan orang yang paling repot sejak istrinya menderita penyakit ini. “Waktu itu tanggal 3 November 2007. Pagi-pagi ketika bangun tidur, istri saya bilang kalau mumet parah sekitar 10 menit lamanya. Buka mata saja nggak kuat. Setelah kondisinya agak enakan, saya antar ke dokter untuk periksa,” cerita Toni.

Menurut dokter, jelas Toni, istrinya menderita asam lambung. Yang membuat Toni heran, asam lambung yang diderita istrinya itu cukup parah. Air dalam perut bisa naik hingga ke jantung, paru-paru, bahkan sampai ke mata, sehingga kalau melihat terasa buram. “Tubuh saya rasanya berat, seperti penuh air,” sambung Sudarni.

Setelah kembali ke dokter, lantas disarankan untuk melakukan endoskopi untuk mengeluarkan air yang memenuhi bagian atas tubuh Sudarni. “Setelah itu kondisinya memang agak enak, tetapi ternyata asam lambungnya tidak bisa turun, dan bahkan naik terus. Kondisi istri pun semakin parah, saya sampai putus asa, karena sudah berganti-ganti dokter, sampai ke Jawa segala, ternyata tak kunjung sembuh,” cerita Toni.

Menurut Sudarni, yang dirasakan pada tubuhnya saat itu seperti bangkai saja. “Dipukul atau dicubit sekeras apapun tidak terasa sakit. Mati rasa. Selama satu setengah bulan saya tidak bisa tidur. Mata hanya merem, tapi tidak tidur,” terang Sudarni.

Pada tahun 2010 kondisi Sudarni makin parah. “Waktu itu penghilahatan saya benar-benar sudah kabur. Sudah tidak bisa mengenali orang sama sekali. Kami sudah hampir putus asa,” katanya.

Di tengah keputusasaan itu, pasangan Toni-Sudarni mendengar tentang Klinik Jeng Ana. “Pada bulan Desember 2010 kami pun memutuskan untuk berobat ke Jeng Ana. Alhamdulillah, ternyata jalan kesembuhan kami melalui Jeng Ana,” jelas Sudarni.

Seperti pasien lain pada umumnya, Toni membawa rekam medis istrinya itu ketika bertemu dengan Jeng Ana. Setelah dipelajari, Jeng Ana pun memberinya paket ramuan yang sudah disesuaikan dengan rekam medis Sudarni. “Sejak pertama datang, kami sudah diberitahu kalau reaksi obat herbal butuh waktu, tidak seperti obat kimia yang efeknya langsung terasa seketika,” jelas Toni.

Setelah mengkonsumsi paket pertama, aku Sudarni, efek ramuan sudah mulai terasa. Bila semula tidak bisa jalan sama sekali, kali ini sudah bisa jalan. “Semula kan hanya makan dan tidur saja,” terang Toni.

Begitu memasuki paket kedua, yakni di bulan ketiga, perkembangan Sudarni semakin baik. “Istri tidak hanya bisa jalan, tetapi juga sudah bisa mengerjakan peketjaan sehari-hari, sudah bisa kesana kemari,” ujar Toni.

Perkembangan Sudarni terus membaik dan akhirnya sembuh total setelah menghabiskan paket keempat. “Setiap habis satu paket kami selalu periksa ke dokter dan selalu dinyatakan kondisinya lebih baik. Dan tidak ada efek samping seperti ditakutkan kebanyakan orang tentang kondisi ginjal atau lever. Bahkan gula darah istri saya yang semula 219 ketika datang ke Jeng Ana kemudian turun menjadi 117, bahkan sekarang turun lagi,” kata Toni.

Menurut Toni, kesembuhan istri ini juga tidak lepas dari kepatuhannya dalam menjalankan semua saran yang disampaikan Jeng Ana, terutama mengenai pola makan. “Istri mematuhi semua.  Tidak ada yang dilanggar sama sekali. Makannya hanya oyong, wortel dan brokoli. Buahnya hanya buah naga, pir sama apel. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh total,” ujar Toni sumringah.

Jeng Ana menambahkan bahwa apa yang dialami Sudarni waktu itu memang sudah sangat parah. “Makanan sudah sulit masuk, dan bernafas juga sudah susah. Ini terjadi karena gas tidak bisa keluar, sedangkan cairan terus naik. Ini menekan pembuluh darah. Kebetulan Ibu Sudarni juga punya riwayat diabetes, dan mungkin pernah mengkonsumsi obat kimia dalam waktu cukup panjang,” terang jeng Ana.

Dengan kondisi itu, maka Jeng Ana pun membuatkan ramuan yang sesuai dengan kronologi penyakit yang pernah dialami Sudarni.

 

 

Page 10 of 18« First...89101112...Last »

Index