Category Archives: Kesaksian


Permalink to ‘Semula Saya Lumpuh karena Stroke, Kini Sudah Bisa Jalan Normal’

‘Semula Saya Lumpuh karena Stroke, Kini Sudah Bisa Jalan Normal’

Perempuan lanjut usia ini tak bisa menahan tangis harunya saat ditanya perihal kesehatannya. Meski rasa sakit belum sepenuhnya hilang, namun wanita yang akrab disapa Ibu Cucun ini sangat gembira karena terbebas dari lumpuh yang semula mengancamnya.

“Penyakit stroke yang saya derita waktu itu sangat parah. Jangankan untuk berjalan, bicara dan bergerak saja tidak bisa,” aku Ibu Cucun di Klinik Jeng Ana Cabang Bandung, beberapa waktu lalu.

Berbagai bentuk pengobatan sudah ditempuhnya, mulai dari medis hingga alternatif, namun stroke yang dideritanya tak kunjung membaik. Kondisi ini sempat membuat keluarga Ibu Cucun putus asa. Hingga akhirnya sekitar bulan Juli 2012 lalu Ibu Cucun memutuskan untuk berobat ke Klinik Herbal Jeng Ana setelah mengetahuinya dari salah satu stasiun televisi.

“Waktu itu saya datang ke Klinik Jeng Ana yang di Jakarta, dan kebetulan ditangani oleh Jeng Ana sendiri,” terangnya. Kala itu Ibu Cucun datang ke klinik Jeng Ana dengan cara dipopong oleh sanak keluarganya.

Dan ternyata, menurut Ibu Cucun, ikhtiarnya untuk berobat ke Jeng Ana tidak sia-sia. Hanya sekitar dua minggu setelah mengkonsumsi ramuan herbal yang diberi Jeng Ana kondisinya berangsur membaik. “Saya saat itu sudah mulai bisa bergerak-gerak dan juga bicara, meski belum jelas seperti sekarang,” ujarnya.

Perkembangan baik ini menjadi semangat tersendiri bagi Ibu Cucun untuk lebih serius dalam melakukan pengobatan di Jeng Ana. Ia memenuhi semua arahan-arahan yang disampaikan Jeng Ana, terutama mengenai pola makan dan pantangan-pantangannya. “Setelah habis paket pertama, saya melanjutkan paket kedua. Kali ini hasilnya jauh lebih baik, karena saya sudah mulai bisa berjalan meski belum lancar. Bahkan saya sudah mulai bisa menyapu rumah,” terangnya.

Kesehatannya pun pelahan berangsur membaik. Dan bahkan ketika datang ke Klinik Jeng Ana cabang Bandung, 25 Desember 2012 lalu, Ibu Cucun sudah bisa berjalan lancar dan tegak. “Saya benar-benar bahagia karena saya akhirnya bisa sembuh dari stroke dan bisa berjalan lagi,” ujar perempuan berusia 60-an tahun ini.

Hanya saja, menurut Ibu Cucun, pada bagian punggung  masih terasa agak sakit. Karena itu dia tidak tahan kalau duduk atau berdiri dalam waktu terlalu lama. “Memang saya belum sepenuhnya sehat, karena punggung saya memang masih sakit. Karena itu saya masih terus melanjutkan pengobatan di Jeng Ana sampai sekarang,” akunya.

Meski demikian, bagi Ibu Cucun, kondisi seperti ini sudah dianggapnya sembuh dari stroke. “Bayangkan, dulu saya lumpuh dan tidak bisa bergerak, sedangkan sekarang sudah bisa berjalan sendiri sampai ke klinik ini. Saya benar-benar bersyukur,” katanya seraya menahan tangis haru.

 


Permalink to Kanker Serviks Bu Erna Sembuh Hanya dengan Satu Paket

Kanker Serviks Bu Erna Sembuh Hanya dengan Satu Paket

Penyakit kanker memang tidak mengenal usia. Tua atau pun muda bisa terkena penyakit mematikan ini.  Seperti yang dialami oleh Bu Erna yang kini usianya sudah sekitar 60-an tahun.

Perempuan berkulit kuning langsat ini sempat disarankan dokter untuk menjalani operasi pengangkatan rahim gara-gara kanker serviks yang dideritanya. Ceritanya, kata Bu Erna, penyakit yang dideritanya itu berawal dari keputihan yang dialaminya.

“Semula saya kira hanya keputihan biasa karena capek atau apa gitu, karena tidak terasa sakit sama sekali. Karena itu saya biarkan. Eh sekitar dua bulan kemudian flek-flek yang keluar semakin banyak. Karena itu saya bicarakan sama anak-anak,” tutur Bu Erna saat mendampingi Jeng Ana di acara ‘Medika Natura’ di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Anak-Anak Bu Erna kemudian menyarankan untuk memeriksakannya ke dokter kandungan.  “Disini dilakukan pemeriksaan darah dan kemudian biopsi. Dari biopsi ini kemudian diketahui bahwa ternyata saya tengah menderita kanker serviks,” terang Bu Erna.

Meski kanker serviks yang diderita Bu Erna baru stadium 1B, namun dokter tetap menyarankan agar dilakukan operasi angkat rahim. Mendengar saran dokter, Bu Erna tidak begitu saja memenuhinya. “Saya kan sudah tua, yang saya takutkan itu pasca operasinya. Karena itu saya kembali rundingkan dengan anak-anak, dan mereka justru menyaran agar saya berobat ke Jeng Ana,” ujarnya.

Kebetulan waktu itu Jeng Ana sendiri yang menangani Bu Erna.  “Setelah berkonsultasi dengan Jeng Ana, kami pulang diberi satu paket obat, termasuk aturan-aturan pola makan dan pantangan-pantangannya,” terang Bu Erna.

Karena ingin cepat sembuh, Bu Erna pun mematuhi semua arahan yang disampaikan Jeng Ana. “Pada hari pertama setelah mengkonsumsi obat memang belum terasa dampaknya sma sekali. Tetapi pada gari kedua dan ketiga, alhamdulillah flek-fleknya sudah berhenti. Tetapi saya terus meminum obatnya. Sekitar sebulan kemudian, benar apa yang dikatakan Jeng Ana waktu kami konsultasi, bahwa keluar  seperti hitam-hitam gitu. Baru setelah itu saya periksakan ke lab dan ternyata saya dinyatakan sembuh,” ujar Bu Erna.

Meski demikian, Bu Erna tetap mengkonsumsi obat sampai habis, hingga kemudian datang lagi ke Jeng Ana untuk memastikan kesembuhannya dengan membawa hasil uji lab terakhir. “Alhamdulillah saya memang sudah dinyatakan sembuh,” kata Bu Erna senang.

Menurut Jeng Ana, cepatnya kesembuhan yang dialami Bu Erna karena saat itu masih stadium 1B. “Pengobatan kanker stadium ini relatif jauh lebih cepat dibanding kalau sudah stadium lanjut. Apalagi kalau pasien mamtuhi semua aturan yang kami sampaikan, insyaAllah kesembuhan jauh lebih cepat,” terang Jeng Ana.

Karena itu pemilik Klinik Herbal Jeng Ana ini mengingatkan agar kaum perempuan jangan sampai mengabaikan papsmear atau USG kalau merasakan adanya sesuatu yang aneh pada organ kewanitaannya. “Banyak kami jumpai di kalangan pasien yang datang, bahwa akibat kelalaian atau keteledorannya melakukan papsmear atau USG sehingga terlambat mengetahui adanya kanker hingga sudah mencapai stadium 3 atau 4. Ini yang membuat lama pengobatannya karena pada stadium lanjut tentunya sudah terjadi komplikasi,” terang Jeng Ana.

Khusus mengenai kanker serviks, kata Jeng Ana, memang banyak dialami para ibu yang sudah berusia tua. “Biasanya sekitar usia 50-an atau 60-an. Ini terjadi karena biasanya mereka lalai atau membiarkan ketika keluar cairan atau flek-flek,” ujarnya.

Karena itu, pesan Jeng Ana, kalau ibu-ibu yag berusia lanjut mengalami flek sebaiknya segera melakukan pemeriksaan. “Karena perempuan yang sudah menopause kan sudah tidak mengeluarkan cairan putih. Jadi kalau tiba-tiba keluar, maka segeralah melakukan pemeriksaan agar tidak terlambat kalau terjadi kanker misalnya,” ujar Jeng Ana.

 

 


Permalink to Divonis Dokter Sulit Punya Anak Ternyata Hamil Setelah 3 Bulan ke Klinik Jeng Ana

Divonis Dokter Sulit Punya Anak Ternyata Hamil Setelah 3 Bulan ke Klinik Jeng Ana

Jangan pernah putus asa bila dokter memvonis tidak bisa memiliki keturunan karena penyakit kewanitaan yang Anda alami. Karena bila kita terus berusaha dan Tuhan menunjukkan jalannya, maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi, termasuk soal keturunan.

Inilah yang dialami oleh pasangan Ibu Nur Hidayati dan Iwan. Pasangan paruh baya dari Bandung ini memang sempat shock ketika pada tahun 2008 dokter memvonisnya sulit memiliki anak. Penyebabnya adalah kista endometriosis yang sudah dua kali diamali perempuan murah senyum ini.

Menurut Nur, penyakit kista endometriosis itu sudah dialaminya sejak tahun 2005. Pada awal 2006, katanya, dia diantar sang suami melakukan pemeriksaan ke dokter. “Dokter waktu itu menyarankan saya untuk segera melakukan operasi. Kami pun memenuhi saran tersebut, sehingga operasi pengangkatan kista endometriosis itu dilakukan,” jelas Nur Hidayati.

Karena merasa dirinya sudah sembuh, maka Nur melanjutkannya dengan terapi keturunan pada dokter yag sama. Sayangnya, sudah setahun menjalani terapi namun tak kunjung ada tanda-tanda kehamilan. “Waktu itu dokter memberikan obat penyubur setiap bulan. Karena sudah setahun tak membuahkan hasil, maka kami memutuskan untuk berhenti,” terangnya.

Atas kesepatan dengan sang suami, Nur kemudian mencoba cara alternatif. Menurut Iwan, sang suami, beberapa tempat pengobatan alternatif waktu itu sudah didatangi. “Selama hampir dua tahun kami kesana kemari mencari pengobatan alternatif. Betapa terkejutnya ketika kami memeriksakan kembali ke dokter ternyata dikatan bahwa kista endometriosis istri saya tumbuh lagi,” ujar Iwan.

Waktu itu dokter tidak menyarankan jalan operasi, hanya memberi obat-obatan saja untuk diminum. Namu, seraya mengkonsumsi obat dari dokter, pasangan ini juga terus berusaha mencari pengobatan alternatif yang tepat. “Kebetulan kami menonton acara Jeng Ana di televisi dan kami tertarik, sehingga kami memutuskan untuk datang ke klinik Jeng Ana cabang Bandung,” tutur Nur.

Ketika datang ke klinik, Nur ditangani oleh asisten. Ibu Nur pun kemudian diberi paket herbal berupa ramuan godok dan kapsul ekstrak herbal. Selain itu tentu saja juga diberi panduan pola makan yang dibuat langsung oleh Jeng Ana.

“Alhamdulillah ketika paket pertama habis, saya merasakan perkembangan yang sangat berarti. Bila semula kalau menstruasi terasa sakit dan tidak lancar, kali ini sama sekali tidak sakit dan lancar, ya bisa dikatakan normal,” jelas Nur.

Nur pun melanjutkan pengobatan dengan mengambil paket kedua. Perkembangan yang dialami Nur selanjutnya benar-benar mengejutkan. “Pada bulan ketiga, saya agak bingung karena biasanya datang bulan pada tanggal 20 tetapi sampai tanggal 23 belum juga haid. Maka, saya memeriksakan diri ke dokter. Betapa terkejutnya ketika dokter mengatakan bahwa saya positip hamil,” terang Nur seraya tersenyum.

Pihak dokter sendiri juga terkejut dengan apa yang dialami Nur. Karena dokter itu juga yang semula mengatakan bahwa ibu muda ini tidak bisa memiliki keturunan. Dokter juga lebih terkejut, kata Nur, ketika memeriksa kondisi kista yang diderita Nur ternyata sudah tidak ada lagi. “Saya benar-benar bersyukur. Ini suaru anugerah dari Allah melalui jalur Klinik Jeng Ana,” tegas Nur.

Kehamilan Nur pun berjalan lancar, dan kemudian lahir seorang putri cantik yang sehat dan lucu. Kini balita yang diberi nama Kartika ini sudah berumur 1,5 tahun. “Sejak lahir sangat sehat, dan pertumbuhannya juga sangat cepat,” tambah Iwan.

Terhadap apa yang dialami oleh Nur, Jeng Ana menjelaskan bahwa dalam memilih pengobatan alternatif sebaiknya masyarakat harus berhati-hati. “Jangan sembarangan.  Seperti yang dialami oleh Ibu Nur selama dua tahun berobat ke alternatif lain ternyata justru kista endometriosisnya tumbuh lagi. Ini mengapa? Karena seperti halnya pengomatan medis atau dokter yang terkadang terjadi malpraktek, di bidang pengobatan alternatif juga bisa terjadi hal yang sama,” terang jeng Ana.

Yang jelas, tambah Jeng Ana, pengobatan alternatif itu membutuhkan ketepatan dalam menentukan jenis dan komposisi ramuan yang sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. “Bila tidak memperhatikan hal tersebut, ya jangan berharap bisa sembuh,” tutur wanita anggun ini.

Di klinik Jeng Ana selalu mengharuskan pasien untuk membawa rekam media ketika berobat atau menjalani terapi. Hal ini dibutuhkan agar  bisa membuatkan obat dengan takaran atau komposisi yang tepat sesuai dengan kondisi penyakitnya. “Obat tradisonal itu bila tidak tepat komposisinya, maka sulit sembuh. Kami menggunakan jenis jamu godok, karena saripatinya benar-benar natural, yaitu yang diminum dari air rebusannya itu. Jadi, bukannya serbuk yang kemudian diseduh dengan air panas. Itu justru tidak boleh,” terang Jeng Ana.

 

Page 10 of 19« First...89101112...Last »

Index