Category Archives: Kesaksian


Permalink to Kanker Payudara Ibu Berusia 72 Tahun Sembuh Setelah Konsumsi Dua Paket

Kanker Payudara Ibu Berusia 72 Tahun Sembuh Setelah Konsumsi Dua Paket

Serangan kanker payudara ternyata tidak mengenal  usia. Sebut saja diantara salah satu pasien di Klinik Herbal Jeng Ana yang bernama Hajjah Yumsi, usianya sudah 72 tahun.

Menurut pengakuan perempuan yang masih nampak sehat ini, benjolan yang muncul di lipatan payudara  itu sebenarnya sudah dirasakan sejak tahun 2004. Tetapi waktu itu dia tidak merasakan apa-apa sehingga dibiarkan, karena tidak tahu kalau itu merupakan kanker payudara.

“Pada tahun 2011 lalu tiba-tiba keluar cairan basah berwarna putih dari luka kecil di lipatan payudara saya. Ketika saya cium, baunya tidak sedap, saya mulai panik,” ujar Ibu Hj Yumsi ketika memberi kesaksian di acara Medika Natura di Jak TV bersama Jeng Ana, beberapa waktu lalu.

Karena panik, maka dia pun memeriksakan diri ke dokter. Beberapa kali dokter melakukan pemeriksaan sehingga sampai pada kesimpulan bahwa sang ibu tengah menderita kanker payudara dan harus menjalani operasi.

Betapa terkejutnya Ibu Hj Yumsi mendengar vonis sang dokter. “Saya sendiri tidak tahu kalau itu kanker, karena tidak terasa sakit. Kadang-kadang  saja terasa nyut-nyut kalau kerja berat. Nah pada tahun 2011 itu agak mulai sering terasa sakit sehingga ke dokter itu,” terangnya.

Atas anjuran dokter untuk operasi, Ibu Hj Yumsi tidak mau memenuhinya. Meski anak-anaknya menyarankan untuk memenuhi anjuran sang dokter, namun si ibu memilih untuk melakukan pengobatan alternatif. “Kepada anak-anak saya bilang ‘ibu udah tua biarin berobat alternatif saja’. Kebetulan saya pernah lihat Jeng Ana di televisi,  dan saya memutuskan untuk berobat ke sana,” tutur ibu tua ini.

Dan ternyata pilihan sang ibu tidak salah. Saat ini dia sudah nampak sehat. Cairan tak sedap yang semula mengganggunya sudah tidak keluar lagi. Lukanya juga sudah kering dan bahkan mulus kembali. Benjolannya juga sudah hampir mengempes. “Sampai saat ini saya baru mengambil dua paket dan sudah sembuh,” ujarnya.

Reaksi ramuan herbal yang diberikan Jeng Ana, terang Ibu Hj Yumsi, sudah mulai terasa efeknya sejak minggu kedua setelah mengkonsumsinya. “Pada minggu pertama belum ada efek, tetapi pada minggu kedua berat badan saya turun sekilo, karena saya ikuti semua arahan yang disampaikan Jeng Ana,” katanya.

Memasuki bulan ketiga dan keempat, aku Ibu Hj Yumsi, berat badannya turun 4 kg.  Sedangkan luka dan cairan sudah kering dan mulus. “Benjolan ya juga sudah lembek. Sampai sekarang saya blom ke dokter lagi utk periksa, karena saya sudah yakin kalau sembuh,” aku Hj Yumsi.

Menanggapi kesaksian Ibu Hj Yumsi, Jeng Ana menjelaskan, bahwa cairan putih yang seperti dialami Ibu Hj Yumsi berasal dari getah bening.  Aromanya tidak sedap dan amis. “Ibu Hj  wktu datang membawa hasil uji lab yang menunjukkan bahwa beliau menderita karsinoma payudara.  Dari rekam medis itu kemudian saya beri obat-obatan herbal dan yang lebih penting lagi adalah pengaturan pola makan. Dan karena ada luka, maka kami beri salepnya,” terang Jeng Ana.

Jeng Ana pun menguraikan mengapa karsinoma itu terjadi. Menurutnya, hal ini muncul karena adanya peradangan ,dan infensi dan juga karena virus. Nah, agar kanker itu tidak menyebar, maka diberilah  obat-obatan alami yang menekan penyebaran kanker etrsebut, seperti antibiotik alami dan perbaikan fungsi syaraf melalui berbagai jenis ramuan herbal yang sudah disiapkannya.

Terjadinya kanker payudara, jelas Jeng Ana, disebabkan oleh berbagai faktor. Bukan hanya karena faktor genetik atau keturunan seperti sering disebut masyarakat awam. Tetapi juga karena faktor hormonal, pola makan dan sebagainya. “Anak-anak saja sekarang sudah banyak yang mengalami semacam fam, fibro, kista di payudara. Faktor pencetusnya kebanyakan karena pola makan yang tidak sehat. Apalagi sekarang banyak jenis makanan yang berpotensi menimbulkan penyakit, seperti makanan siap saji, berpengawet dsb,” jelas Jeng Ana.

Pemilik Klinik Herbal Jeng Ana ini pun mengingatkan kepada ibu-ibu dan kaum wanita pada umumnya yang memiliki riwayat benjolan sebaiknya lakukan USG atau mamo. Karena, biarpun sejinak-jinak benjolan kalau dibiarkan dan bahkan dioperasi tetap akan tumbuh. “Karena hormon dan pola makan akan memicu pertumbuhan sel dan akar-akar yang masih tertinggal. Ada yang pertumbuhannya lama hingga tahunan dan ada yang cepat,” tuturnya.

Sedangkan bila  benjolan yang lingkaran payudaranya sudah bengkak dan keras, serta menumbulkan rasa sakit nyeri yang hebat, Jeng Ana menyarankan sebaiknya jangan melakukan pengobatan dengan cara operasi. Alasannya, kata Jeng Ana,  pemotongan payudara justru akan mempercepat penyebaran.

Solusi terbaik dalam kondisi tersebut, anjur Jeng Ana, adalah melakukan kombinasi pengobatan dengan cara kemo dan herbal.  Kemo bisa membentu mempercepat pengempesan benjolan. Sedangkan herbal diperlukan untuk memperkuat daya tahan atau kekebalan tubuh. “Misalnya supaya tidak terjadi kerontokan rambut, daya fisik yang kuat, nafsu makan yang baik, dan sebagainya. Yang tak kalah pentingnya dalam hal ini adalah pengaturan pola makan,” katanya.

Sementara itu Asisten Jeng Ana untuk Klinik Jakarta, Mbak Nur, menguraikan sekilas tentang jenis-jenis herbal yang biasanya dipergunakan untuk pengobatan kanker. “Biasanya untuk menghilangkan sel dan akar-akar kanker itu kami menggunakan herbal seperti genetri, jangkang, nyamplung, dan sebagainya. Selain itu biasanya syaraf kan kena juga, misalnya terasa cenut-cenut kalau malam hari. Untuk mengatasinya, kami menggunakan akar sidaburi dibantu bambang dayak,” urainya.

Mbak Nur pun menyampaikan agar pasien tidak perlu khawatir tentang efek obat herbal terhadap fungsi ginjal. “Kami sudah memperhitungkan semuanya. Untuk fungsi ginjal, misalnya  dibantu dengan kepundung, tapak leman, tapak dara. Kalau pasien masih kurang yakin, kami persilakan untuk periksa fungsi ginjal ke lab atau dokter,” tegasnya.

 


Permalink to Tanpa Operasi, Ibu Erna Terbebas Kanker Serviks Hanya dengan Satu Paket

Tanpa Operasi, Ibu Erna Terbebas Kanker Serviks Hanya dengan Satu Paket

Perempuan paruh baya ini tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika dirinya terbebas dari kanker serviks yang semula dideritanya. Bagaimana tidak, semula dokter sudah memvonis bahwa kanker akan menyebar luas bila tidak segera dilakukan operasi.

“Tetapi karena saya takut operasi, kemudian anak-anak saya menyarankan untuk berobat alternatif ke Jeng Ana. Kebetulan Jeng Ana kan perempuan, jadi sangat tepat. Kalau laki-laki kan susah ya. Dan kemudian saya pun ditangani oleh Jeng Ana,” terang Bu Erna yang tampil bersama Jeng Ana dalam acara Coffee Break yang disiarkan TV One, beberapa waktu lalu.

Setelah bertemu pertama kali dengan Jeng Ana, Bu Erna semakin yakin bahwa penyakit yang dideritanya bisa sembuh tanpa harus menjalani operasi seperti yang divonis oleh dokter. “Dan alhamdulillah, hanya seminggu setelah mengkonsumsi obat, rasanya sudah enak. Hanya dengan satu paket, saya tidak lagi mengalami keputihan dan flek-flek,” ujarnya.

Salah satu keluhan yang dialami Bu Erna sebelum menjalani pengobatan memang adanya keputihan dan keluarnya flek-flek darah pada bagian kewanitaannya. Waktu itu, akunya, kondisinya cukup parah. Itulah sebabnya kemudian anak-anaknya menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Waktu itu saya datang ke dokter kandungan, terus dilakukan pemeriksaan biopsi, USG, tes darah dan pemeriksaan lainnya. Hasilnya diketahui bahwa saya menderita kanker serviks. Kata dokter, kanker ini harus segera diangkat. Bila dalam waktu sebulan tidak dioperasi, maka bisa menjalar kemana-mana,” jelasnya.

Bu Erna kemudian mendiskusikan vonis dokter tersebut dengan anak-anaknya. “Saya sangat takut operasi. Tetatpi saya juga ingin sembuh. Karena itu kemudian anak-anak menyarankan untuk berobat ke Jeng Ana,” tutur perempuan berusia 40-an ini.

Jeng Ana pun menambahkan bahwa ketika pertama kali datang ke kliniknya, Bu Erna membawa hasil uji lab dan semua rekam medis dari dokter. “Saya mempelajarinya semua, dan kesimpulan dalam hasil uji lab itu bahwa Bu Erna menderita Adeno Karsinoma Serviks

Sekedar diketahui bahwa ada dua jenis utama kanker serviks. Sekitar 8-9 dari 10 jenis yang ada adalah karsinoma sel skuamosa. Di bawah mikroskop, kanker jenis ini terbentuk dari sel-sel seperti sel-sel skuamosa yang menutupi permukaan serviks. Sedangkan sisanya adalah adenokarsinoma. Kanker serviks ini dimulai pada sel-sel kelenjar yang membuat lendir yang kemudian keluar seperti keputihan dan flek-flek.

“Setelah semua data kami pelajari, kemudian kami memutuskan bentuk pengobatan dan terapi yang harus dikalani Bu Erna. Kebetulan waktu itu, disimpulkan bahwa Bu Erna harus menjalani terapi terlebih dahulu. Terapi refleksologi ini disesuaikan dengan jenis dan kondisi penyakit pasien,” terang Jeng Ana.

Setelah terapi selesai, Bu Erna diberi obat herbal dalam berbagai bentuk, mulai dari ramuan seduh, kapsul ekstrak, dan lainnya. Selain itu juga dilakukan pengaturan pola makan, pola pikir, dan istirahat yang teratur,” ujar Jeng Ana.
.
Alhamdulillah Bu Erna mampu menjalani semua panduan Jeng Ana dengan baik, termasuk menjauhi semua pantangan-pantangan yang disebutkan Jeng Ana. Tingkat kepatuhan ini sangat menentukan cepatnya pasien sembuh. Karena, menurut Jeng Ana, makanan sangat menentukan perkembangan penyakit.

“Tetapi intinya, semua pasien yg menjalani terapi harus yakin. Dengan keyakinan itu insyaAllah Tuhan akan memberi kesembuhan,” pungkasnya.


Permalink to ‘Keputihan dan Prolaktin Tinggi, 6 Tahun Saya Tak Punya Anak’

‘Keputihan dan Prolaktin Tinggi, 6 Tahun Saya Tak Punya Anak’

Jangan pernah meremehkan keputihan. Penyakit yang pernah dialami hampir oleh setiap perempuan ini seringkali dipandang remeh, sehingga tidak dilakukan pengobatan. Padahal, keputihan yang kronis bisa mengakibatkan berbagai jenis penyakit, bahkan mempersulit untuk mendapatkan keturunan.

Kondisi seperti inilah yang dialami oleh Yuli, salah seorang pasien Jeng Ana yang selama enam tahun tidak bisa memiliki keturunan. “Berbagai usaha sudah kami lakukan, mulai dari dokter spesialis kandungan hingga berbagai macam bentuk pengobatan alternatif, tetapi tidak ada jasilnya,” tutur Erik, suami Yuli, saat memberi kesaksian dalam Acara Medika Natura, di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Toh pasangan muda ini tak begitu saja putus asa. Mereka terus berusaha, hingga akhirnya bertemu dengan Jeng Ana. Semua rekam medis yang pernah mereka lakukan pun dibawa ketika berobat ke Jeng Ana. “Awalnya saya keputihan dan haid tidak teratur. Ketika cek ke dokter, hasilnya menunjukkan bahwa hormon prolaktin saya tinggi. Alhamdulillah setelah ke Jeng Ana ternyata ada hasilnya,” terang Yuli.

Yuli mengaku menghabiskan tiga paket obat Jeng Ana hingga akhirnya bisa hamil. “Setelah memasuki paket ketiga, sekitar sebulan lamanya ternyata saya positif hamil. Dan sekarang anak saya sudah umur 9 bulan,” jelas Yuli yang kala itu membawa anaknya turut serta ketika memberi kesaksian.

Jeng Ana yang hadir sebagai nara sumber utama acara tersebut menjelaskan, bahwa setiap pasien yang berkonsultasi untuk mengikuti program keturunan di kliniknya akan diwajibkan untuk membawa hasil uji lab suami-istri. “Bila suami gak ada masalah, dan masalah berada di ibu, misalnya, maka penanganan ditekankan pada ibu. Sedangkan Sang Bapak ditekankan di pola makan dan stamina, misalnya rutin mengkonsumsi jus buah, kacang ijo, ikan supaya dapat protein yang bagus,” paparnya.

Mengenai Yuli, kata Jeng Ana, ketika datang memang sedang mengalami gangguan hormon prolaktin. Terjadinya prolaktin tinggi bisa karena berbagai sebab. Diantaranya karena sering mengkonsumsi obat-obatan kimia, karena kondisi kejiwaan seperti stress, dan sebagainya. “Prolaktin yang tinggi ini yang mengakibatkan sulit memiliki keturunan. Terkadang disertai dengan keputihan, mungkin disebabkan infeksi” terang Jeng Ana.

Prolaktin tinggi, menurut Jeng Ana, disebabkan oleh kelebihan sel darah putih. Dampak prolaktin tinggi sangat bermacam-macam. Bukan hanya sulit memiliki keturunan, tetapi bisa juga menimbulkan penyakit lain. Misalnya terkadang pasien sering mengalami pusing di kepala. Bisa juga ibu-ibu yang sudah usia lanjut mengalami seminoma di tempura kepala. “Bukan jenisnya benjolan, tetapi karena riwayat. Jadi, prolaktin ini adalah hormon sel darah putih,” tegas Jeng Ana.

Pengobatannya, lanjut Jeng Ana, harus menggunakan ramuan herbal yang tepat. Tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Selain itu juga terapi untuk membetulkan peranakan. “Terapi peranakan harus dilakukan sangat hati-hati, tidak boleh sering diurut. Tidak boleh keras, karena bagian pencernaan,” katanya.

Pada kesempatan ini Jeng Ana juga mengingatkan pentingnya mengobati keputihan. Dari pengalamannya menangani pasien yang jumlahnya sudah mencapai ribuan, ternyata banyak kasus keputihan yang mengakibatkan kanker serviks

“Mulanya diawali servisitis kronik. Hal ini terjadi karena adanya keputihan di dalam yang tidak keluar. Keputihan ini adanya di bagian leher rahim. Yang seperti ini biasanya punya riwayat suka mengeluarkan keputihan saat berhubungan dengan suami. Penyebabnya banyak, misalnya kurang menjaga kebersihan,” ujarnya.

Karena itu, Jeng Ana menyarankan agar kaum hawa melakukan deteksi dini untuk menjaga kesehatan kewanitaannya. Misalnya dengan melakukan papsmear. Kalau gejala-gejala bisa diketahui, maka bisa diobati sebelum menjadi penyakit. “Aalagi misalnya merasakan saat berhubungan terasa panas, pedih. Juga mengeluarkan bercak darah. Itu sudah merupakan ciri-ciri adanya peradangan atau infeksi. Jangan sampai ini terjadi papiloma. Itu gejala-gejala terjadinya kanker serviks,” terangnya.

Selain itu Jeng Ana juga mengingatkan agar kaum hawa tidak mudah putus asa ketika mengalami problem keturunan. Jangan mudah menyimpulkan mandul. “Susahnya memiliki keturunan itu sama sekali bukan berarti mandul. Yang disebut mandul itu misalnya seperti suami yang mengalami sperma nol, punya hormon tetapi tidak bisa pecah. Kalau perempuan, misalnya, ibu-ibu yang sama sekali tidak pernah mengalami haid. Yang seperti itu memang benar-benar tidak bisa punya keturunan. Tetapi kalau masih bisa menstruasi tetapi tidak bisa punya anak, maka harus dicari dimana letak permasalahannya. Mungkin gerak sperma suami kurang, mungkin ibu ada penyumbatan, dansebagainya. Itu bisa diobati,” pungkas Jeng Ana.

 

Page 10 of 17« First...89101112...Last »

Index