Category Archives: Kesaksian


Permalink to Divonis Dokter Sulit Punya Anak Ternyata Hamil Setelah 3 Bulan ke Klinik Jeng Ana

Divonis Dokter Sulit Punya Anak Ternyata Hamil Setelah 3 Bulan ke Klinik Jeng Ana

Jangan pernah putus asa bila dokter memvonis tidak bisa memiliki keturunan karena penyakit kewanitaan yang Anda alami. Karena bila kita terus berusaha dan Tuhan menunjukkan jalannya, maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi, termasuk soal keturunan.

Inilah yang dialami oleh pasangan Ibu Nur Hidayati dan Iwan. Pasangan paruh baya dari Bandung ini memang sempat shock ketika pada tahun 2008 dokter memvonisnya sulit memiliki anak. Penyebabnya adalah kista endometriosis yang sudah dua kali diamali perempuan murah senyum ini.

Menurut Nur, penyakit kista endometriosis itu sudah dialaminya sejak tahun 2005. Pada awal 2006, katanya, dia diantar sang suami melakukan pemeriksaan ke dokter. “Dokter waktu itu menyarankan saya untuk segera melakukan operasi. Kami pun memenuhi saran tersebut, sehingga operasi pengangkatan kista endometriosis itu dilakukan,” jelas Nur Hidayati.

Karena merasa dirinya sudah sembuh, maka Nur melanjutkannya dengan terapi keturunan pada dokter yag sama. Sayangnya, sudah setahun menjalani terapi namun tak kunjung ada tanda-tanda kehamilan. “Waktu itu dokter memberikan obat penyubur setiap bulan. Karena sudah setahun tak membuahkan hasil, maka kami memutuskan untuk berhenti,” terangnya.

Atas kesepatan dengan sang suami, Nur kemudian mencoba cara alternatif. Menurut Iwan, sang suami, beberapa tempat pengobatan alternatif waktu itu sudah didatangi. “Selama hampir dua tahun kami kesana kemari mencari pengobatan alternatif. Betapa terkejutnya ketika kami memeriksakan kembali ke dokter ternyata dikatan bahwa kista endometriosis istri saya tumbuh lagi,” ujar Iwan.

Waktu itu dokter tidak menyarankan jalan operasi, hanya memberi obat-obatan saja untuk diminum. Namu, seraya mengkonsumsi obat dari dokter, pasangan ini juga terus berusaha mencari pengobatan alternatif yang tepat. “Kebetulan kami menonton acara Jeng Ana di televisi dan kami tertarik, sehingga kami memutuskan untuk datang ke klinik Jeng Ana cabang Bandung,” tutur Nur.

Ketika datang ke klinik, Nur ditangani oleh asisten. Ibu Nur pun kemudian diberi paket herbal berupa ramuan godok dan kapsul ekstrak herbal. Selain itu tentu saja juga diberi panduan pola makan yang dibuat langsung oleh Jeng Ana.

“Alhamdulillah ketika paket pertama habis, saya merasakan perkembangan yang sangat berarti. Bila semula kalau menstruasi terasa sakit dan tidak lancar, kali ini sama sekali tidak sakit dan lancar, ya bisa dikatakan normal,” jelas Nur.

Nur pun melanjutkan pengobatan dengan mengambil paket kedua. Perkembangan yang dialami Nur selanjutnya benar-benar mengejutkan. “Pada bulan ketiga, saya agak bingung karena biasanya datang bulan pada tanggal 20 tetapi sampai tanggal 23 belum juga haid. Maka, saya memeriksakan diri ke dokter. Betapa terkejutnya ketika dokter mengatakan bahwa saya positip hamil,” terang Nur seraya tersenyum.

Pihak dokter sendiri juga terkejut dengan apa yang dialami Nur. Karena dokter itu juga yang semula mengatakan bahwa ibu muda ini tidak bisa memiliki keturunan. Dokter juga lebih terkejut, kata Nur, ketika memeriksa kondisi kista yang diderita Nur ternyata sudah tidak ada lagi. “Saya benar-benar bersyukur. Ini suaru anugerah dari Allah melalui jalur Klinik Jeng Ana,” tegas Nur.

Kehamilan Nur pun berjalan lancar, dan kemudian lahir seorang putri cantik yang sehat dan lucu. Kini balita yang diberi nama Kartika ini sudah berumur 1,5 tahun. “Sejak lahir sangat sehat, dan pertumbuhannya juga sangat cepat,” tambah Iwan.

Terhadap apa yang dialami oleh Nur, Jeng Ana menjelaskan bahwa dalam memilih pengobatan alternatif sebaiknya masyarakat harus berhati-hati. “Jangan sembarangan.  Seperti yang dialami oleh Ibu Nur selama dua tahun berobat ke alternatif lain ternyata justru kista endometriosisnya tumbuh lagi. Ini mengapa? Karena seperti halnya pengomatan medis atau dokter yang terkadang terjadi malpraktek, di bidang pengobatan alternatif juga bisa terjadi hal yang sama,” terang jeng Ana.

Yang jelas, tambah Jeng Ana, pengobatan alternatif itu membutuhkan ketepatan dalam menentukan jenis dan komposisi ramuan yang sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. “Bila tidak memperhatikan hal tersebut, ya jangan berharap bisa sembuh,” tutur wanita anggun ini.

Di klinik Jeng Ana selalu mengharuskan pasien untuk membawa rekam media ketika berobat atau menjalani terapi. Hal ini dibutuhkan agar  bisa membuatkan obat dengan takaran atau komposisi yang tepat sesuai dengan kondisi penyakitnya. “Obat tradisonal itu bila tidak tepat komposisinya, maka sulit sembuh. Kami menggunakan jenis jamu godok, karena saripatinya benar-benar natural, yaitu yang diminum dari air rebusannya itu. Jadi, bukannya serbuk yang kemudian diseduh dengan air panas. Itu justru tidak boleh,” terang Jeng Ana.

 


Permalink to Sembuh dengan Herbal Setelah Bertahun-Tahun Menderita Asam Lambung Akut

Sembuh dengan Herbal Setelah Bertahun-Tahun Menderita Asam Lambung Akut

Pasangan suami istri, Toni dan Sudarni, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika menyampaikan kesaksian bersama Jeng Ana di stasiun televisi Jak TV, beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak, berkat bantuan pemilik Klinik Herbal Jeng Ana itu Sudarni bisa terlepas dari siksaan penyakit asam lambung akut yang dideritanya sejak tahun 2007.

Sang suami, Toni, merupakan orang yang paling repot sejak istrinya menderita penyakit ini. “Waktu itu tanggal 3 November 2007. Pagi-pagi ketika bangun tidur, istri saya bilang kalau mumet parah sekitar 10 menit lamanya. Buka mata saja nggak kuat. Setelah kondisinya agak enakan, saya antar ke dokter untuk periksa,” cerita Toni.

Menurut dokter, jelas Toni, istrinya menderita asam lambung. Yang membuat Toni heran, asam lambung yang diderita istrinya itu cukup parah. Air dalam perut bisa naik hingga ke jantung, paru-paru, bahkan sampai ke mata, sehingga kalau melihat terasa buram. “Tubuh saya rasanya berat, seperti penuh air,” sambung Sudarni.

Setelah kembali ke dokter, lantas disarankan untuk melakukan endoskopi untuk mengeluarkan air yang memenuhi bagian atas tubuh Sudarni. “Setelah itu kondisinya memang agak enak, tetapi ternyata asam lambungnya tidak bisa turun, dan bahkan naik terus. Kondisi istri pun semakin parah, saya sampai putus asa, karena sudah berganti-ganti dokter, sampai ke Jawa segala, ternyata tak kunjung sembuh,” cerita Toni.

Menurut Sudarni, yang dirasakan pada tubuhnya saat itu seperti bangkai saja. “Dipukul atau dicubit sekeras apapun tidak terasa sakit. Mati rasa. Selama satu setengah bulan saya tidak bisa tidur. Mata hanya merem, tapi tidak tidur,” terang Sudarni.

Pada tahun 2010 kondisi Sudarni makin parah. “Waktu itu penghilahatan saya benar-benar sudah kabur. Sudah tidak bisa mengenali orang sama sekali. Kami sudah hampir putus asa,” katanya.

Di tengah keputusasaan itu, pasangan Toni-Sudarni mendengar tentang Klinik Jeng Ana. “Pada bulan Desember 2010 kami pun memutuskan untuk berobat ke Jeng Ana. Alhamdulillah, ternyata jalan kesembuhan kami melalui Jeng Ana,” jelas Sudarni.

Seperti pasien lain pada umumnya, Toni membawa rekam medis istrinya itu ketika bertemu dengan Jeng Ana. Setelah dipelajari, Jeng Ana pun memberinya paket ramuan yang sudah disesuaikan dengan rekam medis Sudarni. “Sejak pertama datang, kami sudah diberitahu kalau reaksi obat herbal butuh waktu, tidak seperti obat kimia yang efeknya langsung terasa seketika,” jelas Toni.

Setelah mengkonsumsi paket pertama, aku Sudarni, efek ramuan sudah mulai terasa. Bila semula tidak bisa jalan sama sekali, kali ini sudah bisa jalan. “Semula kan hanya makan dan tidur saja,” terang Toni.

Begitu memasuki paket kedua, yakni di bulan ketiga, perkembangan Sudarni semakin baik. “Istri tidak hanya bisa jalan, tetapi juga sudah bisa mengerjakan peketjaan sehari-hari, sudah bisa kesana kemari,” ujar Toni.

Perkembangan Sudarni terus membaik dan akhirnya sembuh total setelah menghabiskan paket keempat. “Setiap habis satu paket kami selalu periksa ke dokter dan selalu dinyatakan kondisinya lebih baik. Dan tidak ada efek samping seperti ditakutkan kebanyakan orang tentang kondisi ginjal atau lever. Bahkan gula darah istri saya yang semula 219 ketika datang ke Jeng Ana kemudian turun menjadi 117, bahkan sekarang turun lagi,” kata Toni.

Menurut Toni, kesembuhan istri ini juga tidak lepas dari kepatuhannya dalam menjalankan semua saran yang disampaikan Jeng Ana, terutama mengenai pola makan. “Istri mematuhi semua.  Tidak ada yang dilanggar sama sekali. Makannya hanya oyong, wortel dan brokoli. Buahnya hanya buah naga, pir sama apel. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh total,” ujar Toni sumringah.

Jeng Ana menambahkan bahwa apa yang dialami Sudarni waktu itu memang sudah sangat parah. “Makanan sudah sulit masuk, dan bernafas juga sudah susah. Ini terjadi karena gas tidak bisa keluar, sedangkan cairan terus naik. Ini menekan pembuluh darah. Kebetulan Ibu Sudarni juga punya riwayat diabetes, dan mungkin pernah mengkonsumsi obat kimia dalam waktu cukup panjang,” terang jeng Ana.

Dengan kondisi itu, maka Jeng Ana pun membuatkan ramuan yang sesuai dengan kronologi penyakit yang pernah dialami Sudarni.

 

 


Permalink to Tumor Otak 8 cm Sang Nenek Sembuh Setelah Konsumsi Herbal Jeng Ana

Tumor Otak 8 cm Sang Nenek Sembuh Setelah Konsumsi Herbal Jeng Ana

Nenek beursia 60-an tahun bernama Hj Sanira itu kini sudah nampak segar dan bisa bicara dengan lancar ketika hadir menemani Ratu Herbal Jeng Ana tampil di acara Medika Natura di Jak TV, beberapa waktu lalu. Padahal pada saat pertama kali datang ke klinik Jeng Ana, beberapa bulan lalu, penderita tumor otak sepanjang 8 cm ini hanya bisa diam.

Pada saat memberikan kesaksian kali ini Hj Sanira didampingi putrinya, Hj Kholidah. Hal ini karena Hj Sanira tidak bisa bicara bahasa Indonesia, sehingga terpaksa Hj Kholida  berperan sebagai penerjemah, sekaligus menceritakan segala sesuatu yang pernah dialami ibundanya. “Kebetulan selama ibu sakit, saya memang yang merawat,” aku Hj Kholida.

Bersarangnya tumor di otak Hj Sanira sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun hal ini tidak disadari kalau rasa puyeng dan sakit kepala yang dideritanya itu adalah tumor. Beberapa kali anaknya membawa ke dokter, sehingga diberi obat sakit kepala oleh dokter.

Namun ketika kondisi sakit  semakin parah, tutur Kholida, maka pemeriksaan lebih lanjut pun dilakukan oleh dokter, yakni dengan melakukan  scanning. Hasilnya ternyata diketahui bahwa ada tumor di otak nenek tua itu dengan ukuran yang sudah mencapai 9 cm. “Waktu itu kondisi ibu sudah sangat lemah, tidak bisa mendengar, tidak bisa bicara, tidak bisa mengenali kami anak cucunya dan hanya diam saja. Untuk berjalan pun harus dituntuntun,” cerita Kholida.

Dokter pun kemudian menyarankan agar Hj Sanira menjalani operasi. Namun saran dokter tersebut tidak diikuti. Rembukan anggota keluarga Hj Sanira lebih memilih jalur alternatif. “Sudah banyak pengobatan alternatif yang kami datangi, namun tidak cocok, hingga akhirnya Tuhan menuntun kami untuk bertemu dengan Jeng Ana,” terang Kholida.

Kepada Jeng Ana saat itu, Kholida menyerahkan rekam medis, terutama hasil scan dari dokter. Jeng Ana pun mempelajarinya. Dari hasil scan tersebut, kata Jeng Ana, kondisi tumor memang sudah cukup parah. Pertumbuhan tumor sudah menekan saraf-saraf motorik. “Jadi, syaraf-syarafnya sudah terdesak oleh tumor. Ini yang membuat Ibu Hj Sanira tidak bisa bicara, tidak bisa mengingat, tidak bisa mendengar dan bahkan kalau jalan juga seperti orang stroke, harus dituntun. Waktu datang ke klinik waktu itu, mengenakan sandal saja harus dibantu,” ujar Jeng Ana.

Setelah itu Jeng Ana pun menjelaskan langkah-langkah pengobatan yang akan diberikan kepada Hj Sanira. Selain itu Jeng Ana juga tidak lupa mengingatkan kepada pihak keluarga untuk bersabar dan terus berdoa kepada Allah. “Karena pengobatan herbal itu membutuhkan proses. Nah dengan kesabaran, insyaAllah kalau semua ketentuan pengobatan dilakukan, akan ada hasilnya,” terang Jeng Ana.

Hj Sanira dan Hj Kholida pun membenarkan. Bahwa setelah habis paket pertama dan masuk ke paket kedua, perkembangan pada sang nenek sudah mulai nampak. Bahkan ketika memasuki paket ketiga, Hj Sanira sudah bisa bisa mendengar, bicara dan mengenali kembali anggota keluarganya. “Misalnya waktu itu kalau bapak pulang, ibu sudah bisa membukakan pintu,” kata Kholidah.

Kini, Hj Sanira sudah memasuki paket keenam di Klinik Herbal Jeng Ana. Kondisinya pun sudah mendekati normal. Ketika dilakukan pemeriksaan kembali ke dokter dengan melakukan scan, kata Kholida, ukuran tumornya sudah jauh mengecil. “Tingkat kesembuhannya sudah mencapai 75 persen,” tambah Jeng Ana.

Pihak keluarga Hj Sanira pun memutuskan untuk melanjutkan pengobatan di Klinik Jeng Ana sampai sembuh total, sehingga sampai sekarang masih terus mengkonsumsi obat-obatan herbal dari Jeng Ana. “Ibu tidak kesulitan untuk mengkonsumsi obatnya. Begitu juga dengan aturan pola makan, ibu bisa mematuhinya dengan baik,” tambah Kholida.

Jeng Ana pun menyarankan kepada masyarakat yang menderita tumor otak dengan ukuran yang sudah menekan syaraf-syaraf motorik agar mempertimbangkan dalam-dalam bila memutuskan untuk menempuh cara operasi. Pasalnya, menurut Jeng Ana, cara operasi pada kanker otak dengan stadium sudah tinggi biasanya justru hasilnya bisa fatal, yakni syaraf motorik bisa rusak permanen. “Akibatnya ya tentu saja bisa bisu, tuli, hilang ingatan, secara permanen,” ujarnya.

Tidak hanya itu. Potensi untuk munculnya tumor lagi juga sangat besar, karena cara operasi pada kondisi tumor sudah membesar jelas masih meninggalkan akar-akarnya. “Sisa-sisa tumor atau kanker ini bukannya menyusut, tetapi justru terus berkembang. Jadi sebelum dilakukan operasi, kalau ada obat tradisional yang cocok tentu jauh lebih baik,” paparnya.

Herbalis murah senyum ini pun memberi contoh jenis-jenis herbal yang dipergunakan untuk mengobatinya. Hasil diagnosa dan keluhan-keluhan pasien menjadi pertimbangan penting dalam menentukan herbal apa saja yang dipergunakan. “Untuk jenis tumor atau kanker kami selalu memberinya paket lengkap, mulai dari herbal rebus, 3 jenis kapsul ekstrak, sarang semut, dan juga minyak rempah. Dan tentu saja ditambah air doa dan panduan pola makan,” terang Jeng Ana.

Nah, apa saja jenis herbal yang terkandung di dalam racikan tersebut, menurut Jeng Ana, disesuaikan dengan diagnosa, hasil uji lab atau rekam medis sang pasien. Misalnya kalau syaraf motoriknya sudah kena, maka dipergunakan tanaman-tanaman seperti akar sidaburi, akar deruju, dan sebagainya. Kemudian kalau ada pembengkakan, maka dibantu dengan bawang dayak, rumput dan juraham. Sedangkan kalau  ada benjolan ditambahkan biji nyamplung, nagasari,dan sejenisnya. “Termasuk misalnya kalau juga keluhan di lambung, maka juga diberi obat herbal penyembuhnya. Jadi, jangan khawatir terjadinya efek tertentu, karena racikannya sudah disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien,” pungkas Jeng Ana.

Page 10 of 18« First...89101112...Last »

Index