Kesaksian


Permalink to 12 Tahun Konsumsi Obat Tak Kunjung Sembuh, Kini Andika Sehat Berkat Jeng Ana

12 Tahun Konsumsi Obat Tak Kunjung Sembuh, Kini Andika Sehat Berkat Jeng Ana

Orang tua mana yang tidak cemas melihat anaknya sakit-sakitan. Ini pula yang dirasakan Kuswadi dan istri lantaran anaknya, Andika (12 tahun), terus sakit-sakitan. Demi menjaga kesehatannya, bocah kelas 6 SD itu pun harus mengkonsumsi obat setiap hari selama bertahun-tahun.

“Setiap hari harus meminum obat dari dokter, pagi siang dan sore. Ini berlangsung sudah 12 tahun. Kalau tidak diminum, pasti akan nyesek,” terang Ny Kuswadi saat mendampingi Jeng Ana di studio Jak TV, beberapa waktu lalu.

Ironisnya, sambung Kuswadi, dokter tidak pernah mengetahui penyakit apa sebenarnya yang diderita anaknya. “Semula diduga asma, tetapi setelah dicek darah dan pemeriksaan lainnya ternyata bukan asma. Tetapi dokter memberi obat yang harus dikonsumsi setiap hari. Kami jadi bingung,” ujarnya.

Suatu ketika, kata Ny Kuswadi, sekitar bulan Juni 2013 yang lalu, Andika terus menerus mengalami pendarahan di hidung. Terkadang juga muntah darah. “Ketika kami bawa ke dokter, dibilang bahwa anak saya hanya mengalami panas dalam. Tetapi kami tidak yakin, masa iya panas dalam bisa mengakibatkan pendarahan terus menerus. Kami terus berdoa memohon kepada Allah supaya diberi petunjuk bagi kesembuhan anak saya,” ujarnya.

Karena kondisi ini, Kuswadi dan istri berusaha mencari pengobatan alternatif. Hingga akhirnya bertemu dengan Klinik Herbal Jeng Ana. “Kami datang ke Klinik Jeng Ana bulan Juni yang lalu dengan membawa semua rekam medis dan hasil rontgen anak saya. Baru saat itu, kami mengetahui kalau anak saya mengalami pembengkakan di limfa,” terang Kuswadi.

Menurut Jeng Ana, apa yang dialami oleh Andika merupakan penyakit yang terjadi akibat terminumnya air tuba oleh bayi saat sebelum lahir. Ini bisa diketahui dari hasil tes darahnya. “Jadi, waktu pertama datang ke klinik, ketika melihat kondisi adik Andika, saya minta agar dilakukan cek darah. Dari hasil uji lab itu diketahui bahwa adik Andika ini punya riwayat alergi. Ini terlihat dari kandungan enzimnya,” terang Jeng Ana.

Selain itu, lanjut Jeng Ana, Andika juga mengalami gangguan kekebalan (imun) pada darahnya. Hal inilah yang membuatnya tergangtung pada obat kimia. “Bayangkan selama 12 tahun harus mengkonsumsi berbagai macam obat tetapi tak juga kunjung sembuh. Kalau ini diteruskan bertahun-tahun lagi bisa membahayakan ginjalnya,” tutur Jeng Ana.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Jeng Ana pun memberikan herbal kepada Andika. Karena usianya masih anak-anak, Jeng Ana hanya memberikan sarang semut dan herbal dalam bentuk kapsul. “Alhamdulillah ternyata setelah mengkonsumsi ramuan dari kami, kondisi Andika berangsur membaik, dan bahkan saat ini sudah sembuh, tidak lagi tergantung pada obat-obatan kimia,” ujar Jeng Ana.

Kuswadi pun membenarkan bahwa anaknya saat ini sudah sembuh sekitar 99 persen setelah mengkonsumsi obat dari Jeng Ana. “Andika sudah bisa beraktivitas normal seperti anak –anak lainnya, sudah tidak tergantung lagi dengan obat dokter, tidak harus disuntik tiap hari. Saya benar-benar bahagia dan senang. Terimakasih kepada Jeng Ana,” ucap Kuswadi.

Saat ini Andika masih terus melanjutkan pengobatan di Jeng Ana, yakni baru masuk ke paket kedua. Kondisi Andika sendiri memang sudah nampak sangat sehat. Badannya lebih gemuk dan mobilitasnya juga lebih aktif. “Yang jelas daya tahan atau kekebalan adik Andika saat ini sudah jauh lebih kuat dibanding sebelumnya,” tambah Jeng Ana.

Pemilik Klinik Herbal Jeng Ana ini pun menjelaskan bahwa bagi pasien yang selama ini sudah berobat ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan dari dokter, tidak harus langsung berganti dengan herbal. “Kalu pasien masih cemas atau ragu dengan herbal, maka bisa dikombinasikan terlebih dahulu. Kasih jeda atau selisih waktu sekitar 2 jam. Jadi, setelah minum obat dokter baru sekitar dua jam kemudian minum obat dari Jeng Ana. Nanti pelan-pelan setelah mengetahui efek dan perkembangannya, pasien baru disarankan meninggalkan obat kimia,” ujarnya.

Kepada pasien yang masih ragu dengan herbal, Jeng Ana juga membuka diri untuk sekedar datang berkonsultasi. “Jadi, pasien yang datang ke kami tidak wajib untuk membeli obat. Datang untuk konsultasi saja juga tidak apa-apa. Kami tidak pernah memaksakan pasien untuk membeli obat. Kami beri kebebasan kepada pasien setelah mendengar penjelasan dari kami,” terang Jeng Ana.

 

 


Permalink to Komplikasi Stroke dan Gagal Ginjal Pak Sumarno Sembuh Setelah Konsumsi Satu Paket

Komplikasi Stroke dan Gagal Ginjal Pak Sumarno Sembuh Setelah Konsumsi Satu Paket

Hari Sabtu (7/9/2013) kemarin, Pak Sumarno nampak sehat dan gagah ketika hadir di studio Jak TV didampingi adiknya, Sucipto. Padahal dua bulan lalu, kondisinya sangat memprihatinkan. Jangankan berjalan, berdiri dan bicara saja tidak bisa.

“Kakak saya waktu itu menderita lima jenis penyakit, yaitu stroke, gagal ginjal, asam urat, darah tinggi, gula darah,” terang Sucipto.

Adanya komplikasi penyakit ini dirasakan Pak Sumarno sejak sekitar bulan Juli 2013 lalu. Saat itu dia baru saja pulang umroh. Tiba-tiba kondisi tubuhnya drop. “Mulanya hanya panas dingin, tetapi kemudian bagian-bagian tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali,” ujar Sucipto.

Melihat kondisi ini, pihak keluarga langsung membawa Pak Sumarno ke RSUD Bekasi. Karena kondisinya tak kunjung membaik, maka lelaki lanjut usia ini dibawa ke rumah sakit lain di Jakarta. “Tetapi tidak ada perubahan berarti,” cerita Sucipto.

Di tengah keputusasaan ini, pihak keluarga lantas bertanya ke seorang kawan di Cianjur yang pernah menderita penyakit serupa dan kini sudah sembuh. Dari sini diperoleh jawaban bahwa sang kawan tersebut sembuh setelah berobat di Klinik Herbal Jeng Ana.

“Setelah itu kami langsung menelepon ke Klinik Jeng Ana untuk konsultasi. Kami disarankan untuk melakukan uji lab terlebih dahulu sebelum datang ke klinik,” sambungnya.

Setelah melakukan uji lab, Pak Sumarno langsung dibawa ke Klinik Jeng Ana. Sayangnya, kata Sucipto, waktu itu mereka datang hari Jumat. Padahal setiap Jumat klinik milik Ratu Herbal itu libur. “Kami terpaksa pulang dan kembali lagi keesokan harinya, hari Sabtu,” ujarnya.

Untuk menghindari antrean panjang, keluarga Pak Sumarno datang ke klinik pagi hari buta. Dan alhamdulillah, Jeng Ana sedang berpraktik dan bisa menanganinya secara langsung. “Kami jelaskan semua riwayat penyakit kakak saya. Kemudian ketika pulang, Jeng Ana memberi ramuan satu paket komplet,” tutur Sucipto.

Jeng Ana menambahkan bahwa ketika datang ke klinik waktu itu kondisi Pak Sumarno memang sangat parah. “Beliau tidak bisa duduk, dibopong oleh pihak keluarganya,” ujar Jeng Ana.

Dari  hasil uji lalu yang dibawa Pak Sumarno diketahui bahwa kandungan urium 342. “Ini sudah sangat over, sehingga gagal ginjal. Bahkan beliau sudah melakukan 3 kali cuci darah,” lanjut Jeng Ana.

Selain itu data uji lab juga memperlihatkan kandungan kreatin 19,34, asam urat 12,8, dan diabetes 161, vertigo disertai hipertensi. “Jadi semuanya sudah cukup parah,” tegas Jeng Ana.

Dengan data tersebut, Jeng Ana lantas menyiapkan obat-obatan herbal yang tepat untuk diberikan kepada Pak Sumarno. Paket yang diberikan Jeng Ana kala itu lengkap, mulai dari ramuan rebus, kapsul, sarang semut, minyak rempah, dan air doa.

Pihak keluarga pun memenuhi semua saran Jeng Ana untuk mengkonsumsikan ramuan tersebut kepada Pak Sumarno. Alhamdulillah dalam waktu tak lama, kondisi Pak Sumarno berangsur membaik. “Hanya dua minggu setelah meminum ramuan, kakak saya sudah bisa bicara dan berjalan. Kalau semula menggunakan kursi roda, kali ini sudah nggak mau lagi. Hanya menggunakan tongkat kalau berjalan,” jelas Sucipto.

Sesuai saran Jeng Ana, pihak keluarga kembali melakukan uji lab setelah dua minggu mengkonsumsi ramuan. Hasilnya, data lab memang menunjukkan perubahan yang mencengangkan. “Dari data lab yang disampaikan ke kami setelah dua minggu, urium yang semula 342 turun jadi 49, kreatin turun dari 19,34 menjadi 1,7, asam urat juga menjadi 8,2 dari yang semula 12,8. Subhanallah,” sambung Jeng Ana.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut Jeng Ana, kesembuah itu semata-mata karena reaksi dari ramuan yang diberikannya serta doa-doa yang dipanjatkan. “Jadi, sama sekali tidak ada unsur magic atau mistik. Semata-mata karena obat yang kami berikan,” pungkas Jeng Ana.


Permalink to Baru 3 Hari Konsumsi Herbal Jeng Ana, Ibu Hayati Bisa Melihat Lagi

Baru 3 Hari Konsumsi Herbal Jeng Ana, Ibu Hayati Bisa Melihat Lagi

Gangguan pada bagian penglihatan tentu saja sangat menyiksa. Apalagi kalau sampai mata kita yang semula normal tiba-tiba kehilangan daya penglihatan, rasanya sudah pasti membuat frustrasi.

Inilah yang pernah dirasakan oleh Bu Hayati. Perempuan berusia 50-an tahun ini sekitar satu tahun yang lalu tiba-tiba tidak mampu melihat. “Semula penglihatan saya hanya kabur. Tetapi lama kelamaan pandangan semakin gelap, dan bahkan akhirnya tidak bisa melihat sama sekali. Kalau melihat hanya kelihatan seperti bayangan, tidak bisa melihat wajah atau warna,” terang Bu Hayati.

Kondisi ini jelas membuat bingung Bu Hayati dan keluarganya. Setelah diperiksakan ke dokter dengan pemeriksaan scan atau MRI ternyata diketahui bahwa Bu Hayati menderita Meningioma, yakni tumor yang tumbuh di bagian lapisan luar otak.

“Kata dokter waktu itu, penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan cara operasi. Ibu pun langsung setuju untuk operasi, mungkin karena sudah tidak tahan dengan kondisi seperti orang buta. Tetapi kami sebagai anak dan keluarga tidak setuju, karena menurut dokter, risiko operasi di bagian otak juga sangat besar,” jelas Krisna, putri Bu Hayati, saat mendampingi ibunya memberi kesaksian pada acara Medika Natura di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Beberapa hari kemudian, secara tak sengaja keluarga Bu Hayati menonton televisi yang menayangkan Jeng Ana. “Kalau nggak salah watu itu Jeng Ana tampil di acara Bukan Empat Mata,” terang Bu Hayati.

Tanpa banyak pikir, Bu Hayati pun diantar anaknya datang ke Klinik Herbal Jeng Ana di Jakarta.  Kebetulan waktu itu Jeng Ana sendiri yang menemui Bu Hayati. “Dari data rekam medis yang beliau bawa, terutama hasil scan MRI terlihat sangat jelas bagaimana penyakit yang menyebabkan gangguan mata Bu Hayati,” jelas Jeng Ana.

Jeng Ana memang mengharuskan pasien yang berobat untuk membawa hasil uji lab atau rekam medis dari dokter. Menurut Jeng Ana, data tersebut sangat penting, selain untuk memastikan jenis penyakitnya juga agar pasien bisa melihat sendiri apa sebenarnya yang sedang diderita. “Meskipun tanpa hasil uji lab atau rekam medis sebenarnya kami bisa mengetahui jenis penyakitnya, namun dengan rekam medis bisa lebih memastikan dan meyakinkan pasien sendiri,” sambung Jeng Ana.

Mengenai Meningioma yang diderita Bu Hayati, Jeng Ana pun berusaha merunut apa yang menjadi penyebabnya. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien tentang apa saja yang dilakukan atau yang terjadi sebelum menderita penyakit.

“Dalam kasus Bu Hayati ternyata berkaitan dengan penggunaan kontrasepsi yang terlalu lama, yakni sekitar 10 tahun. Jadi, jangan kira yang terjadi pada bagian peranakan itu tidak mempengaruhi bagian tubuh lainnya, termasuk kepala. Karena, progesteron itu tidak hanya ada di bagian ovarium, tetapi juga di bagian atas, yakni kepala,” tutur Jeng Ana.

Menurut Jeng Ana, Meningioma itu muncul karena penumpukan semacam lemak dan membentuk sumbatan. “Ini terjadi lantaran hormon-hormon yang semestinya dikeluarkan melalui haid bulanan ternyata tidak bisa keluar,” terangnya.

Setelah mengetahui penyakit tersebut, Jeng Ana pun memberikan ramuan yang tepat dengan komposisi yang tepat pula. “Obat yang kami berikan ketika pertama datang, yaitu untuk dua bulan. Kami tdk bisa meracik herbal untuk pengobatan seminggu atau dua minggu, karena ramuan kami menggunakan ratusan tanaman. Selain itu, pengobatan penyakit juga tidak bisa dilakukan secara instan. Apalagi untuk penyakit tumor dan kanker,” jelasnya.

Saat itu Jeng Ana juga menjelaskan kepada Bu Hayati, bahwa untuk jenis penyakit tumor atau kanker membutuhkan pengobatan minimal 3 paket. “Jadi, yang saya sampaikan pahitnya dulu. Karena untuk kanker, biasanya baru pada bulan ke-7 kita bisa mengetahui kesembuhannya, yakni melalui hasil MRI,” ujar Jeng Ana.

Tetapi selama proses mengkonsumsi herbal juga terus dilakukan pemantauan perkembangan pasien. “Seperti Bu Hayati ternyata bilang kalau sudah merasakan perkembangan yang nyata hanya setelah 3 hari mengkonsumsi obat,” kata Jeng Ana.

Bu Hayati pun menambahkan bahwa penglihatannya memang berangsur membaik setelah 3 hari meminum ramuan herbal yang diberikan Jeng Ana. “Saya meminum ramuan Jeng Ana 6 kali sehari. Saya perhatikan terus perkembangannya. Dan alhamdulillah, mata saya yang semula sama sekali gelap kemudian bisa melihat agak terang setelah 3 hari meminum herbal Jeng Ana. Kondisi ini berkembang terus hingga mata saya benar-benar bisa melihat jelas. Sekarang mata saya bahkan tidak hanya terang, tetapi juga bisa melihat jauh,” ujar Bu Hayati gembira.

Sambil menahan keharuan atas kesembuhannya, Bu Hayati pun berbagi saran kepada pasien penderita Meningioma lainnya. “Jujur semula saya putus asa setelah dokter mengatakan bahwa satu-satunya cara pengobatan penyakit saya harus operasi. Tetapi berkat kekuasaan Allah melalui tangan Jeng Ana, sekarang saya sembuh. Jadi, saya sarankan bagi pasien lainnya yang seperti saya untuk menempuh jalan seperti yang saya lakukan,” pungkas Bu Hayati.

 

 

Page 10 of 19« First...89101112...Last »

Index