Category Archives: Kesaksian


Permalink to Balita Ini Sembuh Dari Kanker Lidah Hanya Dengan Satu Paket Herbal Jeng Ana

Balita Ini Sembuh Dari Kanker Lidah Hanya Dengan Satu Paket Herbal Jeng Ana

Aura kebahagiaan tak bisa disembunyikan oleh pasangan muda, Aman dan Siti, ketika hadir menemani Ratu Herbal Jeng Ana di Jak TV, beberapa waktu lalu. Mereka gembira bukan lantaran bisa tampil di televisi, tetapi karena putri semata wayangnya, Amira (4 tahun) bisa terbebas dari kanker lidah.

Aman pun menceritakan awal mula putrinya menderita infeksi kelenjar air liur. Waktu itu, sekitar awal tahun 2013, Amira yang baru berusia 3 tahun sering rewel dan menangis. Tak hanya itu, balita ini juga sulit diberi makan.

Karena itu, pasangan Aman-Siti kemudian memeriksakan anaknya ke klinik. Hasilnya, dokter mengatakan bahwa Amira hanya menderita sariawam biasa, sehingga cukup diberi obat sariawan. Aman dan Siti pun lega mendengar penjelasan dokter.

Tetapi anehnya, setelah hampir dua minggu diberi obat dari dokter, kondisi Amora tak kunjung membaik. Bahkan ketika Aman mencoba memeriksa lidah anaknya, ia justru menjumpai adanya pertumbuhan daging di bawah lidah putri kesayangannya itu.

Semula Aman tak begitu cemas, karena ia masih percaya apa yang dikatakan dokter bahwa putrinya hanya sariawan biasa. Tetapi sekitar seminggu kemudian, pertumbuhan daging di bawah lidah balita lucu itu semakin besar. Aman dan Siti pun mlai cemas, sehingga memeriksakan kembali ke dokter.

Kali ini diagnosa sang dokter berbeda dengan sebelumnya. Dari hasil pemeriksaan dokter, diketahui bahwa Amira ternyata mengalami infeksi kelenjar air liur yang mengarah pada kanker lidah. “Waktu itu dokter menyarankan agar segera dilakukan operasi. Karena kata dokter, hanya itu sati-satunya cara mengobati kanker,” jelas Aman.

Mendengar saran dokter, Aman dan Siti tak langsung menyetujuinya. Pasangan ini hanya bisa bingung. Selain karena biaya operasi yang terbilang mahal, risikonya juga cukup besar. Apalagi operasi dilakukan di daerah mulut.

Nah, di tengah kebingungan itu, secara tak sengaja Aman menonton Jeng Ana di sebuah stasiun televisi. “Keesoka harinya, saya langsung membawa anak saya ke klinik Jeng Ana,” ujar Aman.

Sesuai dengan persyaratan yang berlaku di Klinik Herbal Jeng Ana, Aman datang untuk berkonsultasi di Klinik Jeng Ana dengan membawa rekam medis putrinya. Dari rekam medis tersebut, sambung Jeng Ana, Amira memang semula mengalami sariawan akut, yang kemudian berkembang menjadi infeksi di daerah kelenjar air liur. “Mengapa adik Amira ini kemudian di bawah lidahnya tumbuh daging (kanker), itu terjadi karena sel-sel kelenjar air liur itu hiperaktif akibat gangguan pada sel darah putih,” jelas Jeng Ana.

Kalau sel darah putih bermasalah, kata Jeng Ana, maka imun atau kekebalan tubuh otomatis akan berkurang. “Seperti yang terjadi pada adik Amira ini, menaikkan berat badan saja sulit. Karena itu, pertama0tama yang harus dibenahi adalah sel darah putihnya agar kembali normal,” terang Ratu Herbal Indonesia ini.

Karena Amira masih berusia balita, maka tak banyak jenis ramuan yang diberikan oleh Jeng Ana. Cukup hanya dengan memberikan sarang semut dan air doa. “Hasilnya alhamdulillah, hanya dengan sekali datang saja anak saya sudah sembuh. Kankernya hilang sama sekali, dan Amira juga menjadi semakin sehat,” tambah Aman.

Pantas saja pasangan Aman dan Siti sangat gembira ketika bertemu Jeng Ana di studio Jak TV tersebut. Rupanya dia ingin menunjukkan ke Jeng Ana bahwa putrinya benar-benar sudah terbebas dari ancaman kanker lidah. Kantongnya pun tak perlu terkuras dalam-dalam untuk biaya operasi. Karena biaya pengobatan herbal di Jeng Ana relatif terjangkau. (*)


Permalink to Kini Bu Melati Sembuh Dari Komplikasi Skepsis, Batu Ginjal, Dan Kista

Kini Bu Melati Sembuh Dari Komplikasi Skepsis, Batu Ginjal, Dan Kista

Pengobatan medis tidak selalu berhasil menyembuhkan pasien. Apalagi untuk jenis-jenis penyakit kanker, langkah operasi tidak akan mampu mengangkat el kanker hingga ke akar-akarnya, sehingga berpotensi untuk tumbuh lagi.

Inilah yang dialami oleh Ibu H Melati Sitorus. Perempuan parohbaya ini memilih berobat ke Klinik Herbal Jeng Ana lantaran operasi pengangkatan batu ginjal yang dideritanya ternyata tak membuatnya sembuh. Dari hasil rekam medis yang dibawanya saat datang ke Klinik Jeng Ana di Jakarta, beberapa waktu lalu, nampak munculnya batu ginjal lagi, meskipun diameternya masih kecil, yakni 0,26 cm. Selain itu juga ditemukan adanya kista di ginjal dengan ukuran 2 cm.

Tak hanya itu. Menurut Jeng Ana, sejumlah penyakit baru juga muncul, diantaranya adalah kista di ovarium kanan dan kiri. Bagian kanan berukuran 3,7 cm sedangkan di kiri 2,3 cm. “Dari pengalaman para pasien yang datang ke kami, umumnya setelah operasi memang muncul penyakit yang lebih banyak lagi,” terang pemilik Klinik Herbal Jeng Ana ini.

Bu Melati Sitorus sendiri mengungkapkan bahwa sebelum datang ke klinik Jeng Ana, dirinya kerap mengalami demam tinggi dengan temperatur sampai 42 derajat selsius. Ini terjadi akibat skepsis yang dideritanya.

Istilah awam untuk sepsis adalah keracunan darah, yang juga digunakan untuk menggambarkan septikemia. Sepsis mencakup spektrum penyakit yang berkisar dari keluhan seperti demam, menggigil, malaise, tekanan darah rendah, dan perubahan status mental, sampai gejala disfungsi organ dan syok.

Sepsis disebabkan oleh kehadiran bakteri (bakteremia) dan organisme pernginfeksi lainnya atau racun dalam darah (septikemia) atau pada jaringan lain dari tubuh. Sistem kekebalan tubuh Anda mengakibatkan terbentuknya bekuan-bekuan kecil darah yang dapat menghalangi aliran darah ke organ vital. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan organ.

Nah, dalam kasus Bu Melati, kata Jeng Ana, hal ini terjadi karena infeksi yang menyerang ginjal, dan diperparah oleh penyakit-penyakit lain seperti kista di ginjal maupun ovarium.

“Saya ulangi lagi bahwa ketika Bu Hajah Melati datang ke klinik kami yang di Jakarta, beliau sudah pernah menjalani operasi batu ginjal dan infeksi kronis. Tetapi mengapa kemudian bisa tumbuh lagi? Itu karena operasi atau penggunaan laser hanya mampu mengikis saja, tidak mampu menghilangkan. Sehingga di kemudian bisa tumbuh lagi, apalagi bila pasien tidak menjaga pola makan,” terang Jeng Ana.

Karena itu, berbekal rekam medis yang dibawa Bu Melati, Jeng Ana kemudian membuatkan ramuan yang tepat. “Jadi, disitulah letak pentingnya rekam medis. Mengapa kami mewajibkan pasien membawa rekam medis karena tujuan kami bukan menjual obat, tetapi untuk menyembuhkan pasien. Setelah kami jelaskan semua penyakitnya sesuai dengan reka medis tersebut, pasien bebas untuk mengambil obat di kami ataukah tidak. Jadi tidak ada paksaan,” jelas Jeng Ana.

Bu Melati waktu itu langsung mengambil paket obat yang disiapkan Jeng Ana. Hasilnya, ujar Bu Melati, sekitar seminggus etelah mengkonsumsi ramuan yang diberikan Jeng Ana, efeknya sudah terasa. “Biasanya saya menderita demam sangat tinggi, setelah minum herbal dari Jeng Ana demamnya banyak sekali menurun. Bahkan sekitar 3 minggu kemudian saya lakukan medical check up ke laboratorium, dan hasilnya sangat memuaskan, infeksinya tinggal sedikit,” ujar Bu Melati.

Perkembanan positip ini kian memotivasi Bu Melati untuk lebih rajin mengkonsumsi herbal dan menjauhi pantangan sesuai anjuran Jeng Ana. Walhasil, pada pemeriksaan laboratorium terakhir, beberapa bulan lalu, menunjukkan bahwa penyakit yang diderita Bu Melati sudah bersih. “Saya sangat bersyukur dan bahagia sekali dengan hasil luar biasa ini,” tutur Bu Melati. (*)

 

 

 

 


Permalink to Tak Punya Uang Kemo Pasca Operasi Kanker, Bu Latifah Pilih Ke Jeng Ana

Tak Punya Uang Kemo Pasca Operasi Kanker, Bu Latifah Pilih Ke Jeng Ana

Apa yang dialami oleh Bu Latifah ini barangkali juga pernah menimpa Anda ataupun kerabat Anda. Setelah menjalani operasi kanker usus yang berbiaya mahal, perempuan berusia 50-an tahun ini masih harus merogoh uang jutaan rupiah untuk menjalani kemoterapi.

Kondisi ini dialami oleh Bu Latifah sekitar tahun lalu. Saat itu, sekitar 1,5 bulan lamanya Bu Latifah menderita sakit pada bagian pinggang secara terus-menerus. Karena gtidak tahan, maka dia pun kemudian membawanya ke dokter. Setelah menjalani pemeriksaan lab, walhasil dokter memvonisnya menderita kanker usus dan harus segera dioperasi. “Waktu itu saya menuruti saja apa kata dokter sehingga saya dioperasi,” terang Bu Latifah saat memberi kesaksian bersama Ratu Herbal Jeng Ana di Studio Jak TV, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selesainya pengangkatan kanker ternyata sama sekali bukan berarti Bu Lutfiah sembuh. Selama sekitar seminggu Bu Latifah mengaku tidak enak makan dan hampir 24 jam setiap hari tidak bisa tidur. Tak hanya itu, masih ada tahapan pengobatan, yakni kemoterapi yang harus dijalani secara rutin dalam jangka waktu cukup lama. “Kata dokter sekitar 10 tahun. Padahal untuk sekali kemo saja biayanya satu jutaan. Darimana saya uang sebanyak itu,” keluh Bu Latifah.

Dengan situasi seperti ini, menantu Bu Latifah yang kebetulan bekerja di bidang kesehatan lantas berkonsultasi dengan dokter di tempatnya bekerja. Sang dokter, kata Bu Latifah, menyarankan agar menempuh pengobatan herbal saja. “Itulah sebabnya sekitar seminggu kemudian kami datang ke Klinik Jeng Ana yang ada di Tangerang City,” paparnya.

Kepada Jeng Ana, Bu Latifah menyerakan semua rekam medis dan hasil lab dari dokter. Dari data-data tersebut, sambung Jeng Ana, terlihat bahwa terdapat bakteri, virus, dan juga alergi pada kanker yang dioperasi tersebut. “Itu terlihat dari data lab yang diberikan oleh dokter,” terang Jeng Ana.

Berdasarkan data-data tersebut, Jeng Ana kemudian meracikkan obat herbal yang sesuai dengan kondisi sang pasien. “Alhamdulillah hanya sekitar lima hari setelah mengkonsumsi ramuan dari Jeng Ana, kondisi badan saya sudah terasa pulih kembali. Sudah enak makan dan tidur. Badan juga rasanya lebih ringan,” ujar Bu Latifah.

Pada saat Bu Latifah datang untuk kedua kalinya ke Jeng Ana, sekitar dua bulan kemudian, kondisinya sudah benar-benar sehat. “Dari hasil lab nampak bahwa bakteri, virus dan juga alergi yang semula ada, kali ini sudah bersih. Hanya Hematokritnya saja yang masih bermasalah, mungkin karena imunnya belum 100 persen sembuh,” terang Jeng Ana.

Hemotokrit i proporsi volume darah, yang termasuk di dalamnya adalah eritrosit dan hemoglobin. Dalam kaitannya dengan imun, kata Jeng Ana, hemotorkti itu mensuplai  pembuluh darah otak kanan dan kiri. Kalau suplainya rendah, maka yang kita rasakan adalah pusing.

Nah, menyelesaikan paket kedua, sisa-sisa sel kanker yang biasanya harus dikemo itu kali ini sudah relatif bersih. Jadi, kata Jeng Ana, pada tahap ini kondisi pasien sudah mendekati sembuh total. Yang perlu dilakukan tinggal pemulihan.

Karena itu, Bu Latifah masih melanjutkan ke paket ketiga. Na, mengenai pembelian obat, Jeng Ana menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman pada pasien ataupun calon pasien. Bahwa Jeng Ana sama sekali tidak pernah memaksa atau mengharuskan pasien untuk membeli obat. “Ketika pasien datang, yang kami lakukan adalah memberi konsultasi, menjelaskan apa dan bagaimana sesuai dengan hasil rekam medis yang mereka bawa. Nah dari situ kami sampaikan bahwa untuk menyembuhkannya diperlukan obat ini dan itu. Soal apakah pasien membeli obatnya atau tidak, atau barangkali hanya membeli sebagian saja, itu sepenuhnya kami serahkan kepada pasien,” pungkas Jeng Ana. (*)

 

Page 1 of 171234510...Last »

Index