Category Archives: Kesaksian


Permalink to Tumor Otak Bikin Bu Maimunah Tak Bisa Melihat

Tumor Otak Bikin Bu Maimunah Tak Bisa Melihat

Jangan pernah meremehkan migren. Bila sakit sebelah kepala itu terjadi berulangkali, maka Anda perlu waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter. Karena ada kemungkinan hal itu merupakan tanda adanya kanker otak atau miningioma.

Inilah yang dialami Bu Maimunah. Perempuan paroh baya ini semula mengira migren di sisi kanan kepalanya hanyalah sakit biasa. Semula dia hanya mengkonsumsi obat migren biasa yang dibelinya di apotik. Setelah itu, katanya, sakit kepala memang mereda. “Tetapi beberapa saat kemudian kambuh lagi. Begitu terus terjadi. Setelah minum obat kemudian sembuh, tapi kambuh dan kambuh lagi,” terangnya ketika menemani Jeng Ana di acara Medika Natura Jak TV untuk memberi kesaksian, beberapa waktu lalu.

Yang membuat Bu Maimunah cemas, lama kelamaan penglihatan matanya terganggu. “Semula hanya kabur biasa, tapi kemudian semakin kabur, dan bahkan sulit melihat,” ujarnya.

Bu Maimunah pun kemudian datang ke dokter mata. Dia mengira yang dialaminya adalah sakit mata. Setelah diperiksa, sang dokter mendiagnosanya mengalami radang mata. “Saya kemudian dirawat dan diinfus sampai habis enam botol. Tapi ternyata tidak sembuh-sembuh. Bahkan penglihatan saya semakin kabur,” kata Bu Maimunah.

Melihat kondisi ini, kata Bu Maimunah, sang dokter mata kemudian menyarankannya untuk melakukan tes MRI. Dia pun memenui saran tersebut dengan mendatangi dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah dilakukan MRI, lanjut Bu Maimunah, ternyata diketahui bahwa dirinya menderita tumor otak. “Waktu itu hari Minggu, dan dokter bilang kalau hari Senin keesokan harinya saya harus menjalani operasi,” jelasnya.

Atas saran dokter tersebut, Bu Maimunah merembukkannya dengan suami, anak dan keluarganya. “Semua anggota keluarga menyerahkan keputusan di saya. Tapi saya sangat takut. Bagaimana tidak seram kalau yang dioperasi itu bagian kepala. Saya putuskan untuk menempuh pengobatan alternatif,” kata Maimunah.

Salah seorang anaknya pun kemudian mencari tempat pengobatan alternatif melalui internet, hingga kemudian menemukan Klinik Herbal Jeng Ana yang punya website http://klinikherbaljengana.com. “Saat itu juga kami menelepon ke klinik Jeng Ana dan diberi tahu kalau Jeng Ana praktik di Kalibata setiap hari Sabtu dan Minggu. Saya putuskan untuk datang hari Sabtu,” terangnya.

Saat ke klinik Jeng Ana, Bu Maimunah diantar dan dibopong oleh keluarganya, diantaranya Bu Hendra. “Waktu itu dia sama sekali tidak bisa melihat. Bahkan ketika konsultasi dengan Jeng Ana, dia tidak bisa melihat Jeng Ana, hanya bisa mendengar suaranya saja,” sambung Bu Hendra.

Dari hasil rekam medis yang dibawa, kata Jeng Ana, diketahui bahwa Bu Maimunah menderita sphenoid miningioma, yakni sejenis kanker. Penyakit ini biasanya berkembang di belakang mata dan di sepanjang punggung bukit sphenoid ( tubuh tulang berbentuk kupu-kupu di dasar tengkorak ).

Gejala meningioma sphenoid diantaranya berupa hilangnya sensasi , mati rasa wajah dan masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda, dan bahkan kebutaan. Sesuai namanya, miningioma jenis ini juga berakibat hilangnya kemampuan penciuman.

“Melihat data MRI yang dibawa Bu Maimunah, ukurannya waktu itu cukup besar, yakni  3,34 x 2,95 x 3,16 cm. Kedua matanya sudah tidak bisa melihat sama sekali,” terang Jeng Ana.

Penyakit ini, jelas Jeng Ana, terjadi karena adanya gangguan keseimbangan hormon. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai sebab, termasuk misalnya penggunaan alat kontrasepsi KB yang tidak cocok. “Alhamdulillah setelah berobat di klinik kami, sekarang Bu Maimunah sudah bisa melihat normal kembali seperti saat ini,” tegas Jeng Ana.

Bu Maimunah mengaku bisa merasakan efek obat herbal yang diberikan Jeng Ana langsung bisa dirasakan, terutama sakit kepalanya yang semula terus-terusan kambuh akhirnya berkurang. Tetapi soal penglihatan, aku Bu Maimunah, baru dia merasakan perkembangan ketika memasuki paket kedua. “Satu paket kan dua bulan. Jadi ketika pertengahan paket kedua, saya sudah mulai bisa mengenali warna. Dan sekarang alhamdulillah penglihatan saya sudah normal kembali,” ujarnya.

Kondisi ini terus berkembang seiring berjalannya pengobatan. “Sekarang saya baru mengambil paket ketiga dan kondisi penglihatan saya sudah pulih. Tinggal penyembuhan total saja,” urainya.

Jeng Ana menambahkan, bahwa pengobatan penyakit jenis kanker tidak bisa dilakukan secara instan. Standar kelaziman yang dilakukan di klinik Jeng Ana adalah sekitar enam bulan. “Biasanya di bagian awal ketika pasien datang sudah kami jelaskan, bahwa MRI tidak bisa dilakukan setiap saat. Standarnya adalah enam bulan kemudian atau ketika memasuki bulan ketujuh baru dilakukan MRI lagi untuk mengetahui kondisi akhirnya,” jelas Jeng Ana.

Meski demikian, bukan berarti pasien baru sembuh setelah enam bulan. Kata Jeng Ana, kecepatan pasien untuk bisa sembuh tidak bisa disamaratakan. Ada yang bisa sembuh setelah tiga paket, tetapi ada juga yang sampai empat paket. “Hal ini dikarenakan kondisi masing-masing pasien kan berbeda. Kami selalu mengikuti perkembangan pasien ketika datang kembali ke klinik. Karena itu MRI di bulan ketujuh itu sangat penting untuk memastikan kondisi akhir pasien. Seperti Bu Maimunah ini, baru minggu lalu mengambil pasien ketiga. Meskipun penglihatannya sudah pulih, namun masih perlu penyembuhan total pada akar kanker atau benjolannya sampai benar-benar bersih,” kata Jeng Ana.

Lantas, obat apa sebenarnya yang digunakan Jeng Ana sampai bisa menyembuhkan kanker? Menurut Jeng Ana, obat yang dipergunakan 100 persen berasal dari herbal atau tanam-tanaman obat. “Sesuai dengan hasil uji lab atau rekam medis kan kelihatan secara jelas apa penyakitnya. Nah, kanker yang diderita Bu Maimunah ini adalah karena bermasalah secara hormonal. Karena itu, ramuan yang kami berikan adalah obat-oabatan herbal yang mampu menyeimbangkan kembali hormon. Karena ada benjolan, maka juga dipergunakan herbal yang fungsinya untuk menggempur benjolan. Gangguan penglihatan pada mata itu adalah terjadi karena saraf mata tertekan oleh benjolan tadi,” paparnya.

Jeng Ana mencontohkan penggunaan akar sidaguri untuk pengobatan bagian saraf, karena tumor pasti mempengaruhi saraf. “Juga akar jeruju yang berfungsi untuk membuang bakteri dan virus yang ada dalam darah, lalu biji nyamplung untuk fungsi kemoterapi. Jadi ada ratusan tanaman obat yang kami gunakan. Tidak bisa hanya satu, dua atau beberapa saja. Semuanya disesuaikan dengan kondisi penyakit pasien,” pungkas Jeng Ana. (*)


Permalink to Kista Bu Rumiati Sembuh Total Setelah Habis Dua Paket

Kista Bu Rumiati Sembuh Total Setelah Habis Dua Paket

Selama berbulan-bulan Bu Rumiati nyaris tak bisa beraktivitas. Kista yang dideritanya menimbulkan rasa sakit luar biasa pada bagian perutnya.

Rasa sakit itu datang secara rutin seminggu dua kali. “Saya baru tahu kalau sakit yang saya rasakan itu karena kista setelah dilakukan pemeriksaan USG oleh dokter. Saat itu juga dokter menyarankan saya untuk melakukan operasi pengangkatan,” cerita Bu Rumiati ketika memberikan kesaksian di Acara ‘Medika Natura’ Jak TV bersama Jeng Ana, beberapa waktu lalu.

Namun perempuan paroh baya itu tak langsung memenuhi saran dokter untuk menjalani operasi. “Saya sangat takut untuk operasi, apalagi sering mendengar dari orang-orang kalau setelah operasi ternyata tumbuh kista lagi. Pokoknya saya takut,” jelas Bu Rumiati.

Dia pun lantas berupaya mencari pengobatan alternatif. Dari satu pengobatan alternatif ke pengobatan alternatif lainnya sudah pernah dicobanya. Tapi sayang, kista Bu Rumiati tak juga kunjung sembuh. “Bahkan pernah saya malah jadi sakit setelah berobat ke salah satu pengobatan alternatif,” ujarnya.

Hingga akhirnya secara tak sengaja Bu Rumiati mendengar soal adanya Klinik Herbal Jeng Ana. “Sejak saat itu saya mencari alamatnya, dan datang langsung ke Klinik Jeng Ana di Kalibata,” tuturnya.

Kebetulan waktu itu Jeng Ana sendiri yang menangani Bu Rumiati. “Dari hasil USG yang dibawa Bu Rumiati, ukuran kistanya saat itu 6 cm.

Berdasarkan data medis dan cerita Bu Rumiyati soal sakit yang dideritanya, maka Jeng Ana pun memberikan ramuan yang sudah disesuaikan komposisinya. Selain itu, tentu saja, Jeng Ana juga menyampaikan pantangan-pantangan makanan yang harus dijauhi, serta pola makan yang tepat.

“Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur, setelah sekitar seminggu mengkonsumsi ramuan yang diberikan Jeng Ana, saya merasakan adanya perubahan. Setelah habis satu paket, yaitu dua bulan, rasa sakit sudah tidak pernah terjadi lagi,” terang Bu Rumiati.

Meski sudah tidak merasakan sakit, namun Bu Rumiati waktu itu masih melanjutkan pengobatan satu paket lagi atas saran Jeng Ana. Alasannya, untuk membersihkan akar-akar penyebab kista yang masih tersisa.

Walhasil, setelah dua paket habis, Bu Rumiati langsung memeriksakan diri ke dokter untuk melakukan USG. “Dokter menyatakan kalau kista saya sudah benar-benar tidak ada lagi. Saya sangat berterimakasih kepada Jeng Ana, karena saya bisa sembuh tanpa harus melakukan operasi,” kata Bu Rumiati. (*)


Permalink to Bu Sarmi Akhirnya Terbebas Dari Kanker Otak Meningioma

Bu Sarmi Akhirnya Terbebas Dari Kanker Otak Meningioma

Kanker otak merupakan momok yang menakutkan bagi siapapun. Tak heran bila H Mahfud sempat stres ketika mengetahui bahwa istrinya, Hj Sarmi, mengidap meningioma.

Meningioma adalah jenis lain dari tumor otak. Tumor ini paling sering terjadi pada ibu-ibu berusia antara usia 40 – 70. Kanker jenis ini memang umumnya bersifat jinak. Namun dapat menyebabkan komplikasi yang merusak dan kematian karena ukuran mereka atau lokasi.

Seperti halnya jenis kanker lain, meningioma sulit dikenali tanpa melalui pemeriksaan lab. Hj Sarmi pun semula tidak menyangka bila penyakit yang dideritanya adalah kanker otak. “Semula kami mengira hanya sakit mata saja. Karena penglihatan mata terus-menerus berkurang. Itulah sebabnya kami bawa ke dokter mata,” jelas H Mahfud ketika memberi kesaksian di acara ‘Medika Natura’ bersama Jeng Ana di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Walhasil, obat-obatan yang diberi oleh dokter mata itu pun tak mampu memberi kesembuhan. Pun dengan kacamata yang diberi dokter juga tak bisa mengatasi penyakit Bu Sarmi.

Sebaliknya kondisi Bu Sarmi justru semakin parah. Kali ini bukan penglihatan yang terganggu, tetapi juga rasa sakit kepala luar biasa juga dirasakan Bu Sarmi. “Karena sakitnya yang luar biasa, saya sampai menarik rambut saya sampai tercabut,” sambung Bu Sarmi, mengenang penyakit yang dideritanya sejak akhir tahun 2010 silam.

Dengan kondisi ini, dokter lantas menyuruh Bu Sarmi untuk melakukan MRI. “Dari situ baru diketahui kalau istri saya ternyata menderita kanker otak Meningioma,” ujar Mahfud.

Mendengar keterangan dokter tentu saja pasangan berusia 50 tahunan ini terkejut bukan kepalang. Apalagi hasil MRI memperlihatkan adanya dua titik meningioma, yakni satu titik berukuran 17 x 23 x 26 dan satu lagi berukuran 11 x18 x 18. “Dokter menyarankan untuk melakukan operasi belah tengkorak. Karena di dua lokasi, maka operasinya juga dua kali,” katanya.

Mahfud pun hanya bisa pasrah, dan menyerahkan pada istrinya untuk memutuskan. “Rupanya istri saya tidak siap untuk melakukan operasi. Saya sendiri juga ngeri ketika mendengar belah tengkorak,” ujarnya.

Di tengah kebingungan inilah pasangan Mahfud – Sarmi akhirnya memutuskan untuk berobat ke Klinik Herbal Jeng Ana. Walhasil, sejak mengkonsumsi herbal yang diberikan Jeng Ana, kondisi Bu Sarmi berangsur membaik. “Setelah tiga paket, kondisi istri saya sudah sembuh. Penglihatannya sudah normal, sakit pusingnya juga hilang,” terang Mahfud.

Padahal, kata Mahfud, dulunya Sarmi tidak bisa mengenali bentuk dan warna. Bahkan untuk berjalan saja harus dipapah. “Alhamdulillah sekarang sudah normal kembali,” ujarnya.

Jeng Ana berpesan kepada masyarakat agar rajin memeriksakan diri kalau mengalami gangguan kesehatan yang agak aneh. Pasalnya kanker hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan lab.

Meningioma tumbuh dan berasal dari lapisan luar otak (duramater), sehingga letaknya bisa bervariasi. Lokasi tumor yang sering diantaranya pada area konveksitas kalvaria, basis frontal (olfactory groove), tuberculum sella, sphenoid wing atau di area fossa posterior.

Sementara gejala yang timbul, jelas Jeng Ana,  sangat bervariasi tergantung letak tumornya. Gejala paling sering adalah nyeri kepala khronis yang semakin lama semakin berat. “Gejala lain diantaranya gangguan penglihatan, gangguan penciuman, kejang, kelemahan anggota badan sampai penurunan kesadaran,” tutur Jeng Ana. (*)

Page 1 of 181234510...Last »

Index