Monthly Archives: May 2012


Permalink to ‘Saya Pernah Operasi Meningioma, Ingin Normal Seperti Dulu’

‘Saya Pernah Operasi Meningioma, Ingin Normal Seperti Dulu’

Assalamu’alaikum …

Saya pernah operasi Meningioma Fibroblastik thn 2009. Letaknya di belakang di thorax 8 sampai 12. Karena hal tersebut kaki saya lemah dan sampai sekarang belum kembali normal, sehingga saya masih beraktivitas di atas kursi roda.

Adakah solusi dari Jeng Ana untuk saya? Saya ingin sekali dapat jalan normal seperti dulu. Sekarang saya berada di Bontang, Kalimantan Timur. Terima kasih.

Ani Kesumawati

ayumi_trk@yahoo.co.id

JAWAB:

Meningioma merupakan jenis tumor otak yang jinak dan paling banyak dijumpai. Tumor ini umumnya tumbuh dan berasal dari lapisan luar otak (duramater), sehingga letaknya bisa bervariasi.

 

Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen dan dapat menimbulkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi sesuai dengan bagian otak yang terganggu. Sekitar 40% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20% menimbulkan gejala sindroma lobus frontalis. Sindroma lobus frontalis sendiri merupakan gejala ketidakmampuan mengatur perilaku, seperti impulsif, apatis, disorganisasi, defisit memori dan atensi, disfungsi eksekutif, dan ketidakmampuan mengatur mood.

Gejala tumor ini memang sangat bervariasi, tergantung letak tumornya. Gejala paling sering adalah nyeri kepala kronis yang semakin lama semakin berat. Gejala lain diantaranya gangguan penglihatan, gangguan penciuman, kejang, kelemahan anggota badan sampai penurunan kesadaran. Karena timbulnya gejala yang lambat tersebut, maka diagnosis seringkali terlambat dan bahkan diabaikan.

Dari data survei diketahui bahwa tumor ini lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria, terutama pada golongan umur antara 50-60 tahun. Selain itu tumor ini juga memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu keluarga.

Untuk mendiagnosa penyakit ini hanya bisa dilakukan dengan CT scan dan MRI kepala dengan kontras. Pada kasus tertentu kadang dibutuhkan pemeriksaan CTA atau angiografi.

Bagaimana cara mengobatinya? Dalam pengobatan secara medis, satu-satunya cara pengobatan yang biasa ditempuh adalah dengan cara operasi pengangkatan tumor secara total. Tumor ini biasanya bisa diangkat secara total, karena batasnya jelas dan tempat melekat tumor di duramater bisa diangkat atau dikoagulasi.

Meski demikian, dalam banyak kasus, operasi pengangkatan tumor jenis ini tetap memberi risiko bagi pasien. Salah satunya mungkin seperti yang kini tengah dialami oleh penanya. Meski sudah menjalani operasi, namun sampai saat ini belum juga normal. Bahkan masih melakukan aktivitasnya dari atas kursi roda.

Lantas apakah penyakit ini bisa disembuhkan dengan ramuan herbal? InsyaAllah. Selama kita sabar, ikhlas dan yakin, insyaAllah obat-obatan yang telah disediakan oleh Allah di alam semesta ini akan menjadi media penyembuhan penyakit ini.

Cukup banyak jenis herbal yang memang disediakan oleh Tuhan untuk mengobati penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker otak ini. Oleh karena itu, bila Anda ingin menjalani terapi/pengobatan di klinik kami, silakan saja datang langsung ke klinik dengan membawa rekam medis terbaru yang sudah Anda jalani selama ini.

Data-data medis ini akan membimbing kami dalam menentukan jenis terapi dan ramuan yang tepat untuk membantu penyembuhan penyakit Anda sehingga bisa normal kembali. Semoga Anda bisa sembuh kembali.


Permalink to Ogah Jalani Operasi, Penderita Kanker Rektum Pilih Herbal

Ogah Jalani Operasi, Penderita Kanker Rektum Pilih Herbal

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya penderita kanker rectum. Ada kanker di rectum berukuran 6 cm di dekat anus. Vonis dokter harus operasi dan memindahkan anus di perut. Hal ini yang membuat saya kurang tertarik untuk menjalani operasi.

Mohon kiranya saya diberikan perkiraan biaya untuk pengobatan herbal di klinik herbal Jeng Ana ini. Dari yang sebelum-sebelumnya, kira-kira butuh berapa paket untuk penyembuhan ini. Terimakasih, saya tunggu balasannya.

Wassalammualaikum wr wb.

Erma (Surabaya)

r_tristy2@yahoo.com

JAWAB:

Wa’alaikum salam.

Kanker rektum (Colorectal Cancer) biasanya selalu dipasangkan dengan kanker usus besar (kolon). Maklum, keduanya memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pencernaan.

Seperti kita ketahui bahwa sistem pencernaan dimulai dari mulut, kerongkongan (esofagus), lambung, usus halus (duodenum, yeyunum, ileum), usus besar (kolon), rektum dan berakhir di dubur.

Usus besar terdiri dari dua bagian, yakni kolon dan rektum. Kolon atau usus besar adalah bagian usus sesudah usus halus, terdiri dari kolon sebelah kanan, kolon sebelah tengah atas dan kolon sebelah kiri. Setelah kolon, barulah rektum yang merupakan saluran di atas dubur.

Bagian kolon yang berhubungan dengan usus halus disebut caecum, sedangkan bagian kolon yang berhubungan dengan rektum disebut kolon sigmoid.

Lazimnya, kanker usus besar lebih sering terjadi pada wanita, sedangkan kanker rektum kebanyakan menimpa kaum pria. Tetapi dalam kasus ini  Anda adalah perempuan yang mengidap kanker rektum.

Di negara kita, jenis kanker ini memang bukan termasuk jenis kanker yang banyak terjadi. Tetapi di negara maju, kedua kanker ini termasuk jenis kanker kedua yang paling dominan. Selain itu, data di sejumlah negara maju juga memperlihatkan bahwa keduanya juga menempati urutan kedua jenis kanker yang paling mematikan. Hal ini tidak lepas dari gaya hidup masyarakat modern yang cenderung mengabaikan faktor kesehatan.

Angka kejadian kanker rektum mulai meningkat pada umur 40 tahun dan puncaknya pada umur 60-75 tahun.

Kanker kolorektal tumbuh perlahan dan memakan waktu yang lama sebelum menyebabkan gejala. Gejalanya tergantung kepada jenis, lokasi dan penyebaran kanker.

Usus besar sebelah kanan (kolon asendens) memiliki diameter yang besar dan dinding yang tipis. Karena isinya berupa cairan, kolon asendens tidak akan tersumbat sampai terjadinya stadium akhir kanker.

Tumor pada kolon asendens bisa begitu membesar sehingga dapat dirasakan melalui dinding perut. Lemah karena anemia yang berat mungkin merupakan satu-satunya gejala.

Usus besar sebelah kiri (kolon desendens) memiliki diameter yang lebih kecil dan dinding yang lebih tebal dan tinjanya agak padat. Kanker cenderung mengelilingi bagian kolon ini, menyebabkan sembelit dan buang air besar yang sering, secara bergantian.

Karena kolon desendens lebih sempit dan dindingnya lebih tebal, penyumbatan terjadi lebih awal. Penderita mengalami nyeri kram perut atau nyeri perut yang hebat dan sembelit. Tinja bisa berdarah, tetapi lebih sering darahnya tersembunyi, dan hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.

Kebanyakan kanker menyebabkan perdarahan, tapi biasanya perlahan. Pada kanker rektum, gejala pertama yang paling sering adalah perdarahan selama buang air besar. Jika rektum berdarah, bahkan bila penderita diketahui juga menderita wasir atau penyakit divertikel, juga harus dipikirkan kemungkinan terjadinya kanker.

Pada kanker rektum, penderita bisa merasakan nyeri saat buang air besar dan perasaan bahwa rektumnya belum sepenuhnya kosong. Duduk bisa terasa sakit. Tetapi biasanya penderita tidak merasakan nyeri karena kankernya, kecuali kanker sudah menyebar ke jaringan diluar rektum

 

Pengobatan

Bagaimana cara pengobatannya? Bila Anda melakukan pengobatan secara medis, pengobatan utama pada kanker kolorektal biasanya dilakukan dengan mengangkat bagian usus yang terkena dan sistem getah beningnya.

Pada kebanyakan kasus kanker kolon, bagian usus yang ganas diangkat dengan pembedahan dan bagian yang tersisa disambungkan lagi. Untuk kanker rektum, jenis operasinya tergantung pada seberapa jauh jarak kanker ini dari anus dan seberapa dalam dia tumbuh ke dalam dinding rektum.

Pengangkatan seluruh rektum dan anus mengharuskan penderita menjalani kolostomi menetap (pembuatan hubungan antara dinding perut dengan kolon). Dengan kolostomi, isi usus besar dikosongkan melalui lubang di dinding perut ke dalam suatu kantung, yang disebut kantung kolostomi.

Bila memungkinkan, rektum yang diangkat hanya sebagian, dan menyisakan ujung rektum dan anus. Kemudian ujung rektum disambungkan ke bagian akhir dari kolon.

Mungkin ini yang Anda maksudkan tidak tertarik dengan cara operasi yang ditawarkan oleh dokter.

Lantas, apakah mungkin pengobatan kanker ini dilakukan secara herbal, tanpa melalui cara operasi? InsyaAllah Tuhan menyediakan berbagai jenis obat dari alam ciptaanNya untuk semua jenis penyakit yang juga diciptakanNya.

Caranya adalah dengan mengobati atau menjinakkan biang yang mengakibatkan muncul dan tumbuhnya kanker. Tentu saja dengan menggunakan ramuan-ramuan herbal. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah menjalankan pola makan dan gaya hidup yang tidal memungkinkan bagi terus tumbuhnya kanker tersebut.

Karena itu, data medis yang sudah Anda jalani menjadi sangat penting untuk pengobatan herbal ini. Jadi, bila memang Anda berkeinginan menjalani pengobatan secara herbal, silakan datang ke klinik dengan membawa hasil rekam medis yang selama ini sudah dijalankan. Dari sana, kami akan menentukan solusi yang sesuai dengan kondisi penyakit yang Anda alami.

Mengenai berapa lama waktu penyembuhannya tentu sangat relatif, sangat tergantung pada kondisi masing-masing pasien.


Permalink to Setelah 17 Tahun ‘Mandul’ Akhirnya Lahirkan Putri Cantik

Setelah 17 Tahun ‘Mandul’ Akhirnya Lahirkan Putri Cantik

Jangan pernah menyerah ketika berusaha untuk bisa mendapatkan keturunan. Belajarlah pada kisah yang dialami oleh salah seorang pasien Klinik Herbal Jeng Ana, Ibu Hajah Zubaidah.

Perempuan asal Cilegon ini sudah 17 tahun menikah, namun tidak juga dikaruniai buah hati alias ‘mandul’. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari program keturunan melalui dokter, pengobatan alternatif dan sebagainya. “Selama 17 tahun saya berobat kemana-mana, tetapi susah diberi keturunan. Alhamdulillah setelah berobat ke Jeng Ana, sekarang saya sudah punya keturunan. Seorang putri cantik, usianya sudah 5 bulan. Lucu sekali,” kata perempuan yang ketika mengikuti program keturunan sekitar setahun lalu berusia 37 tahun.

Hj Zubaidah pun menuturkan, dirinya positip hamil setelah satu bulan mengikuti program keturunan Jeng Ana. Tetapi perempuan yang tidak pernah putus asa untyk berusaha ini terus melanjutkan program ini hingga akhir kehamilan, sehingga anaknya benar-benar lahir sehat dan cerdas. “17 tahun penantian benar-benar tidak sia-sia,” tutur Hj Zubaidah bangga, dalam acara Medika Natura di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Jeng Ana pun menambahkan bahwa kekuasaan Allah tidak ada yang bisa menghalangi. “17 tahun itu sangat lama, sampai Hj Zubaidah meminta do’a sama Allah dengan memberangkatkan seseorang untuk haji, karena begitu kepinginnya mendapatkan keturunan,” terang Jeng Ana.

Dalam kasus Hj Zubaidah, problem yang membuat sulit mendapat keturunan terletak pada suami dan istri. “Dengan standar usia 37-38 tahun, kalau Allah memberikan jalannya, mungkin dengan perantara kami, bismillah, kun fayakun, yang penting ikhlas dan yakin, insyaAllah Tuhan memudahkannya,” tuturnya.

Jeng Ana pun menjelaskan bahwa untuk menjalani program keturunan sebaiknya keduanya, yakni pasangan suami istri. Pasalnya banyak kasus perempuannya saja yang melakukan berbagai upaya dan pengobatan. Tetapi sang suami tidak mau berusaha untuk mengecek kondisinya. “Baru setelah sekian lama sang suami mau mengecek spermanya, dan ternyata baru diketahui bahwa suami bermasalah. Karena itu, sebaiknya kalau melakukan program keturunan, keduanya suami-istri membawa hasil uji labnya,” terang Jeng Ana.

Dari sekian banyak problem pasien keturunan yang ditangani Jeng Ana, sebagian besar yang menjadi penghalang adalah karena kista. Jeng Ana menggolongkan kista ada tiga jenis, yakni:

-         Kista Coklat

-         Kista Endometriosis

-         Kista Jinak atau lemah

Kista coklat dan endometriosis, menurut Jeng Ana, hampir sama. “Biasanya pada saat menstruasi, sebelum atau sesudah, kita merasakan sakit yang melilit. Terkadang buang air besar juga susah, juga diiringi dengan mual, juga kepala pusing. Juga lemes, terkadang juga tidak bisa jalan. Malah ada yang mengalami kekejangan,” terangnya.

Sedangkan penderita kista yang jenisnya lemah atau jinak hampir tidak pernah merasakan sakit. “Baru kalau kistanya sudah besar, misalnya lebih dari 6 atau 7 cm merasakan kram di perut, begah dan lain sebagainya,” ujarnya.

Nah, khusus untuk Endometriosis, dari pengalaman Jeng Ana, sekitar 75 persen penderitanya sulit mendapatkan keturunan. Karena kalau Endometriosis membsar dan menekan saluran tuba bisa menimbulkan sumbatan. Akibatnya ada yang mengakibatkan hamil di luar kandungan. “Hingga akhirnya saluran itu dipotong. Satu dipotong, masih sisa satu yang belum. Dengan satu sel indung telur saja ada yang bisa berhasil. Seperti ibu yang tadi di testimoni, juga hanya satu sel indung telur sebelah kanan, karena yang sebelah kiri sudah diangkat karena Endometriosis yang sudah dioperasi tumbuh lagi, akhirnya operasi lagi tak juga sembuh. Akhirnya ikhtiar di tempat kami dan ternyata bisa hamil,” terang Jeng Ana.

Jadi, menurut Jeng Ana, pasien yang menjalani program keturunan harus memiliki keyakinan dan keikhlasan, karena hanya Allah yang menentukan bisa atau tidaknya seseorang memiliki keturunan. “Kami hanya perantara saja,” tuturnya.

Page 5 of 512345

Index